
Beijing – Ekspor China kembali mencatat pertumbuhan kuat. Pada Agustus 2026, nilai ekspor China melonjak 25% secara tahunan. Kinerja ini menunjukkan permintaan global terhadap produk buatan China masih tinggi.
Data bea cukai China menunjukkan pertumbuhan ekspor Agustus lebih cepat dibandingkan Juli yang mencapai 23,9%. Kenaikan tersebut juga didorong oleh permintaan terhadap produk teknologi, semikonduktor, kendaraan listrik, baterai, serta berbagai kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan atau AI.
Ekspor China Tembus US$401,44 Miliar
Menurut data yang dikutip Reuters dan South China Morning Post, ekspor China pada Agustus mencapai sekitar US$401,44 miliar. Pertumbuhan 25% tersebut menjadi salah satu penopang penting ekonomi China di tengah lemahnya sejumlah sektor domestik.
Kinerja ekspor juga menunjukkan bahwa perusahaan China masih mampu mempertahankan permintaan dari pasar internasional. Produk teknologi menjadi salah satu sektor yang mencatat pertumbuhan signifikan.
Reuters melaporkan ekspor produk teknologi tinggi China meningkat 42,9% secara nilai dolar. Ekspor semikonduktor bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam nilai, meskipun kenaikan volumenya relatif lebih terbatas.
Impor China Juga Naik 28,2%
Bukan hanya ekspor yang tumbuh. Impor China pada Agustus juga meningkat 28,2% secara tahunan.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan impor Juli yang mencapai 27,5%. Pertumbuhan impor yang kuat menunjukkan aktivitas perdagangan China masih bergerak positif.
Dengan ekspor tumbuh 25% dan impor naik 28,2%, China mencatat surplus perdagangan sekitar US$119,09 miliar pada Agustus. Angka tersebut meningkat dari sekitar US$112,5 miliar pada Juli.
Ekspor Teknologi dan AI Jadi Sorotan
Salah satu faktor penting di balik lonjakan ekspor China adalah meningkatnya kebutuhan global terhadap teknologi.
Booming AI mendorong permintaan terhadap berbagai perangkat pendukung, termasuk semikonduktor, komputer, perangkat pemrosesan data, baterai dan produk teknologi lainnya.
Data resmi yang dikutip CNA menunjukkan nilai ekspor komputer dan komponennya pada periode Januari hingga Agustus 2026 melonjak 49,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa China semakin mengandalkan produk bernilai tambah tinggi. Ekspor tidak lagi hanya bertumpu pada barang manufaktur konvensional.
Ekspor ke Amerika Serikat Ikut Melonjak
Pasar Amerika Serikat juga menjadi salah satu faktor penting dalam data perdagangan terbaru China.
Ekspor China ke AS pada Agustus meningkat 34,4% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut lebih cepat dibandingkan kenaikan impor China dari AS yang berada di kisaran 17,8%.
Akibatnya, surplus perdagangan China terhadap AS meningkat menjadi sekitar US$29,18 miliar pada Agustus, dari US$28 miliar pada Juli.
Namun, hubungan perdagangan Beijing dan Washington masih menghadapi ketidakpastian. Kedua negara tetap membahas kebijakan tarif dan perdagangan menjelang pertemuan tingkat tinggi yang direncanakan berlangsung pada September.
Surplus Perdagangan China Terus Membesar
Kinerja Agustus turut memperbesar surplus perdagangan China sepanjang tahun.
Dalam delapan bulan pertama 2026, surplus perdagangan China telah mencapai sekitar US$805,51 miliar. Angka tersebut menunjukkan betapa besar kontribusi sektor eksternal terhadap perekonomian China.
Kondisi ini juga menjadi perhatian sejumlah negara mitra dagang. Surplus yang semakin besar dapat meningkatkan tekanan agar China memperkuat konsumsi domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar luar negeri.
Ekonomi Domestik China Masih Menghadapi Tantangan
Meski ekspor China tumbuh pesat, kondisi ekonomi domestik belum sepenuhnya kuat.
Reuters mencatat pertumbuhan industri dan penjualan ritel China mengalami perlambatan pada awal kuartal ketiga. Investasi aset tetap juga melemah, sementara sektor properti masih menghadapi tekanan.
Artinya, lonjakan ekspor belum otomatis menunjukkan seluruh bagian ekonomi China sedang mengalami pemulihan yang sama kuat.
Pemerintah China juga terus memberikan dukungan fiskal. Salah satu langkahnya adalah penggunaan instrumen pembiayaan senilai sekitar 800 miliar yuan untuk mendukung investasi infrastruktur.
China Makin Bergantung pada Permintaan Global
Lonjakan ekspor 25% memberikan keuntungan besar bagi China. Namun, ketergantungan terhadap pasar global juga membawa risiko.
Perubahan tarif, perlambatan ekonomi dunia dan pembatasan perdagangan teknologi dapat memengaruhi kinerja ekspor China pada bulan-bulan berikutnya.
Reuters menilai risiko tarif serta keberlanjutan siklus investasi teknologi menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Jika permintaan global melemah, sektor ekspor China juga dapat menghadapi tekanan.
Kesimpulan
Ekspor China naik 25% pada Agustus 2026, menjadi sinyal kuat bahwa perdagangan luar negeri masih menjadi salah satu mesin utama ekonomi Negeri Tirai Bambu.
Produk teknologi tinggi, semikonduktor, kendaraan listrik dan kebutuhan AI menjadi pendorong penting. Pada saat yang sama, impor China naik 28,2% dan surplus perdagangan mencapai sekitar US$119,09 miliar.
Meski demikian, China masih menghadapi tantangan dari sisi konsumsi domestik, investasi dan sektor properti. Karena itu, kekuatan ekspor menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Beijing untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.