El Niño Mengintai Ekonomi Indonesia, Harga Pangan dan Inflasi Jadi Risiko Utama

JAKARTA – Fenomena El Niño menjadi salah satu risiko ekonomi yang perlu diwaspadai Indonesia hingga awal 2027. Kondisi cuaca yang lebih kering berpotensi mengganggu produksi pangan, menekan pasokan komoditas, dan meningkatkan tekanan inflasi.

Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mencatat dampak El Niño terhadap inflasi perlu diantisipasi. BMKG memprakirakan 75,1 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah pada September 2026. Kondisi tersebut dapat memengaruhi produksi tanaman pangan dan meningkatkan risiko kenaikan harga.

El Niño Berpotensi Berlangsung hingga Awal 2027

Risiko El Niño tidak hanya menjadi persoalan cuaca dalam jangka pendek. DEN memperkirakan fenomena tersebut dapat berlangsung hingga awal 2027, meski intensitasnya diproyeksikan menurun menjelang periode Ramadan dan Idulfitri.

Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena periode Ramadan dan Idulfitri biasanya disertai peningkatan kebutuhan masyarakat. Jika pasokan pangan terganggu ketika permintaan meningkat, tekanan terhadap harga dapat semakin besar.

BMKG juga mengonfirmasi bahwa El Niño masih menjadi faktor penting dalam kondisi cuaca Indonesia. Dalam analisis terbarunya, BMKG menyebut El Niño berada pada intensitas sangat kuat dan kondisi kering masih mendominasi sejumlah wilayah.

Curah Hujan Rendah Jadi Ancaman Produksi Pangan

Salah satu dampak paling penting dari El Niño adalah berkurangnya curah hujan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kekeringan dan mengganggu pertumbuhan tanaman.

BMKG memprediksi pada September 2026 sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah hingga menengah. Dalam prediksi bulanan, sekitar 72,39 persen wilayah Indonesia masuk kategori curah hujan rendah, yaitu 0–100 milimeter per bulan.

Kondisi tersebut tidak berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami kekeringan dengan tingkat yang sama. Namun, wilayah dengan curah hujan rendah perlu mendapat perhatian karena ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting bagi sektor pertanian.

Produksi Beras Diperkirakan Menurun

Risiko terhadap sektor pangan mulai terlihat dari proyeksi produksi beras.

DEN mengutip perkiraan BPS bahwa produksi beras pada periode Agustus hingga Oktober 2026 berpotensi turun 0,9 persen secara tahunan, atau sekitar 0,1 juta ton. Penurunan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan pangan.

Jika produksi menurun sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, harga pangan berpotensi mengalami tekanan. Karena itu, pengendalian pasokan menjadi bagian penting dari strategi menjaga inflasi.

Harga Pangan Bisa Ikut Terdorong

Risiko El Niño terhadap perekonomian paling cepat dapat terlihat melalui sektor pangan.

DEN mencatat inflasi kelompok volatile food meningkat menjadi 4,06 persen secara tahunan pada Agustus 2026, dari 2,52 persen pada Juli. Kenaikan tersebut terjadi ketika harga sejumlah komoditas pangan mengalami tekanan. DEN juga menyebut El Niño sebagai salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan tekanan pangan.

Kenaikan harga pangan kemudian dapat memengaruhi pengeluaran rumah tangga. Jika harga kebutuhan pokok meningkat dalam waktu yang cukup lama, daya beli masyarakat juga dapat mengalami tekanan.

Inflasi Indonesia Sudah Naik

Risiko El Niño muncul ketika tekanan inflasi Indonesia juga mulai meningkat.

DEN mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 2,88 persen pada Juli menjadi 3,19 persen pada Agustus 2026. Meski masih berada dalam sasaran inflasi 2,5 persen ±1 persen, kenaikan tersebut menunjukkan perlunya perhatian terhadap perkembangan harga.

Karena itu, perkembangan cuaca dan harga pangan menjadi dua faktor yang perlu dipantau secara bersamaan. Gangguan produksi akibat cuaca dapat mengurangi pasokan, sedangkan permintaan yang tetap tinggi dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga.

Pemerintah Siapkan Mitigasi

Pemerintah mulai memperkuat langkah mitigasi untuk menghadapi potensi dampak El Niño.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah memperkuat dan menyalurkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). DEN mencatat stok CBP mencapai sekitar 5,1 juta ton per 25 Agustus 2026.

Pemerintah juga menyiapkan keberlanjutan program bantuan pangan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah membahas kesiapan menghadapi El Niño, termasuk program bantuan yang disiapkan untuk masyarakat.

Langkah tersebut penting untuk menjaga ketersediaan pangan, terutama apabila kondisi kering berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Risiko Karhutla Juga Perlu Diwaspadai

Dampak El Niño tidak hanya berkaitan dengan pertanian dan harga pangan. Kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

BMKG menyebut September 2026 masih menjadi fase kritis karhutla. Kondisi kering, pengaruh El Niño, dan tingginya jumlah titik panas menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Karhutla dapat menimbulkan dampak ekonomi melalui gangguan terhadap aktivitas masyarakat, transportasi, kesehatan, hingga kegiatan usaha di wilayah terdampak.

Bank Indonesia Tetap Fokus Menjaga Inflasi

Risiko cuaca juga menjadi perhatian dalam kebijakan pengendalian inflasi.

Bank Indonesia menyatakan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID). Langkah tersebut termasuk mengantisipasi gangguan cuaca seperti El Niño terhadap harga pangan.

Bank Indonesia juga mempertahankan sasaran inflasi 2,5 persen ±1 persen untuk 2026 dan 2027. Dengan demikian, stabilitas harga pangan dan pengendalian inflasi tetap menjadi bagian penting dari kebijakan ekonomi nasional.

Ekonomi Indonesia Perlu Bersiap

El Niño belum tentu langsung menyebabkan perlambatan ekonomi nasional. Namun, dampaknya terhadap produksi pangan, harga komoditas, inflasi, dan aktivitas masyarakat membuat fenomena ini menjadi risiko ekonomi yang perlu diantisipasi.

Dengan prakiraan cuaca kering yang masih berlangsung dan El Niño yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027, pemerintah perlu menjaga pasokan pangan, memperkuat cadangan beras, serta memastikan distribusi berjalan lancar.

Jika langkah mitigasi berjalan efektif, dampak El Niño terhadap ekonomi dapat ditekan. Sebaliknya, gangguan produksi yang berkepanjangan dapat meningkatkan tekanan harga dan memberikan beban tambahan bagi masyarakat.

vertu789