
Perang Iran Menguji Kekompakan BRICS
NEW DELHI – Iran jadi ujian BRICS di tengah KTT BRICS 2026 yang digelar di New Delhi, India. Konflik di Timur Tengah membuat negara-negara anggota harus menghadapi perbedaan kepentingan yang semakin jelas.
BRICS kini beranggotakan 11 negara, yaitu Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Kelompok ini mewakili hampir setengah populasi dunia dan memiliki pengaruh besar terhadap energi serta perdagangan global. (apnews.com)
Di tengah perbedaan tersebut, anggota BRICS justru berusaha menjaga pertemuan tetap berjalan.
Draf Deklarasi Bersama Berhasil Disepakati
Ada perkembangan penting dari pertemuan tahun ini.
Reuters melaporkan bahwa negara-negara BRICS telah menyepakati draf deklarasi bersama pada Sabtu, 12 September 2026. Dokumen tersebut dilaporkan akan mengecam perang unilateral oleh negara mana pun, tetapi tidak menyebut pihak tertentu secara langsung. (reuters.com)
Kesepakatan tersebut menunjukkan adanya upaya serius untuk menjembatani perbedaan.
Para pemimpin BRICS diperkirakan memberikan persetujuan akhir terhadap deklarasi tersebut dalam KTT di New Delhi. (reuters.com)
Iran dan Uni Emirat Arab Berada di Posisi Berbeda
Mengapa konflik Iran begitu sensitif?
Salah satu alasannya adalah Iran dan Uni Emirat Arab sama-sama anggota BRICS, tetapi berada dalam posisi yang berbeda di tengah konflik Teluk.
Reuters menyebut perwakilan kedua negara harus melakukan pembicaraan untuk menjembatani perbedaan sehingga BRICS tetap dapat menghasilkan kesepakatan bersama. (reuters.com)
Situasi ini menjadi gambaran betapa rumitnya menjaga persatuan kelompok yang semakin besar.
India Berada di Tengah Pertarungan Kepentingan
Sebagai tuan rumah, India memegang peran penting.
Perdana Menteri Narendra Modi harus menjaga komunikasi dengan Rusia, China, Iran, Uni Emirat Arab, dan anggota lainnya.
Pada saat yang sama, India juga mempunyai hubungan strategis dengan Amerika Serikat dan Eropa.
Karena itu, New Delhi tidak bisa mengambil posisi yang terlalu condong kepada satu pihak.
AP mencatat India sedang menjalankan diplomasi penyeimbang agar BRICS tetap menjadi forum kerja sama, bukan berubah menjadi blok yang sepenuhnya berhadap-hadapan dengan Barat. (apnews.com)
Rusia Dorong BRICS Lebih Mandiri
Presiden Rusia Vladimir Putin memanfaatkan forum BRICS untuk mendorong kerja sama ekonomi yang lebih mandiri.
Dalam pertemuan dengan Modi, Putin menginginkan BRICS menjadi platform praktis untuk teknologi, infrastruktur, investasi, dan sistem pembayaran. (reuters.com)
Rusia juga menolak apa yang disebutnya sebagai tekanan ekonomi dari negara-negara Barat.
Bagi Moskow, BRICS dapat menjadi sarana memperluas hubungan ekonomi di tengah sanksi dan pembatasan perdagangan.
China Juga Punya Agenda Besar
Presiden China Xi Jinping hadir dalam KTT setelah hubungan Beijing dan New Delhi mulai menunjukkan tanda-tanda membaik.
China ingin memperkuat pengaruhnya dalam ekonomi dan tata kelola global melalui BRICS.
Namun, Beijing juga harus berhati-hati agar konflik Timur Tengah tidak memecah kepentingan anggota.
Hubungan China dengan Iran cukup dekat, tetapi China juga mempunyai kepentingan ekonomi besar dengan negara-negara Teluk.
Energi Menjadi Taruhan Besar
Konflik Iran bukan hanya persoalan politik.
Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi dan perdagangan energi dunia. Gangguan di kawasan tersebut dapat langsung berdampak pada harga minyak dan biaya transportasi.
Reuters melaporkan harga minyak Brent kembali berada di atas US$100 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah. (reuters.com)
Kondisi tersebut membuat isu energi menjadi agenda penting bagi BRICS.
Selat Hormuz Jadi Titik Rawan
Salah satu perhatian utama adalah Selat Hormuz.
Jalur laut tersebut sangat penting bagi pengiriman energi dunia. Ketika lalu lintas terganggu, harga minyak dan biaya pengiriman dapat meningkat.
Bagi negara-negara BRICS yang menjadi importir energi, kondisi tersebut dapat memicu inflasi.
Sementara itu, produsen energi BRICS juga menghadapi perubahan besar terhadap pasar global.
Konflik Ukraina Menambah Beban Diplomasi
BRICS juga harus menghadapi persoalan perang Rusia-Ukraina.
Rusia merupakan salah satu anggota paling berpengaruh dalam kelompok tersebut.
Namun, negara anggota lain tidak semuanya mendukung posisi Rusia secara terbuka.
India, misalnya, mempertahankan hubungan pertahanan dan energi dengan Rusia, tetapi juga terus mendorong dialog dan menjaga hubungan dengan negara-negara Barat. (apnews.com)
Karena itu, perang Ukraina menjadi persoalan lain yang dapat memperbesar perbedaan internal BRICS.
BRICS Tidak Selalu Satu Suara
Inilah tantangan terbesar BRICS.
Kelompok ini terdiri dari negara-negara dengan sistem politik, kepentingan ekonomi, dan hubungan luar negeri yang berbeda.
India dan China masih memiliki persoalan perbatasan.
Iran dan UEA memiliki kepentingan berbeda di kawasan Teluk.
Rusia menghadapi perang dan sanksi Barat.
Sementara anggota lainnya memiliki hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat dan Eropa.
Karena itu, Iran jadi ujian BRICS bukan semata-mata karena perang.
Konflik tersebut memperlihatkan persoalan yang lebih besar: seberapa jauh kelompok ini mampu bertindak sebagai satu kesatuan?
Namun, BRICS Berhasil Menemukan Titik Temu
Munculnya draf deklarasi bersama menjadi sinyal positif.
Meskipun tidak menyebut negara secara langsung, rumusan tersebut memungkinkan anggota BRICS menyampaikan sikap terhadap perang tanpa memaksakan posisi politik yang sama. (reuters.com)
Langkah itu dapat dianggap sebagai kompromi.
Setiap negara tetap mempertahankan kepentingannya, tetapi kelompok masih dapat menghasilkan dokumen bersama.
BRICS Ingin Fokus pada Ekonomi
Selain konflik, agenda KTT BRICS tetap berfokus pada ekonomi.
Perdagangan, investasi, energi, pembangunan, dan sistem pembayaran menjadi beberapa isu utama.
India juga mendorong gagasan untuk meningkatkan konektivitas pembayaran digital antarnegara.
Reuters melaporkan integrasi mata uang digital bank sentral menjadi salah satu gagasan yang dibicarakan untuk mempercepat pembayaran lintas negara. (reuters.com)
Mengurangi Ketergantungan pada Dolar
BRICS juga terus membicarakan cara mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat.
Namun, ini tidak berarti kelompok tersebut sudah memiliki mata uang bersama.
Fokus yang lebih realistis saat ini adalah penggunaan mata uang nasional dan pengembangan sistem pembayaran lintas negara. (reuters.com)
Tujuannya adalah membuat perdagangan antaranggota lebih fleksibel.
Tetapi Sistem Keuangan BRICS Masih Menghadapi Hambatan
Membangun sistem pembayaran alternatif tidak mudah.
Setiap negara memiliki aturan perbankan, mata uang, dan infrastruktur digital yang berbeda.
Selain itu, bisnis internasional tetap membutuhkan likuiditas dan kepercayaan pasar.
Karena itu, BRICS masih harus melalui perjalanan panjang sebelum dapat menciptakan sistem keuangan yang benar-benar terintegrasi.
Indonesia Punya Kepentingan di BRICS
Indonesia juga menjadi anggota BRICS dan memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas perdagangan serta energi.
Sebagai negara dengan ekonomi besar di Asia Tenggara, Indonesia dapat memanfaatkan BRICS untuk memperluas pasar dan investasi.
Namun, Indonesia juga perlu menjaga hubungan dengan Amerika Serikat, China, Jepang, Uni Eropa, dan mitra dagang lainnya.
Karena itu, sikap Indonesia terhadap isu geopolitik akan tetap berhati-hati.
BRICS Punya Kekuatan Ekonomi Besar
Menurut AP, negara-negara BRICS mencakup sekitar setengah populasi dunia dan menyumbang porsi besar sumber daya serta aktivitas ekonomi global. (apnews.com)
Kekuatan tersebut membuat BRICS semakin penting.
Namun, ukuran besar tidak otomatis berarti kesatuan politik.
Justru semakin banyak anggota, semakin besar pula perbedaan kepentingan yang harus dikelola.
Konflik Iran Bisa Menjadi Titik Balik
Perang Iran dapat menjadi titik balik bagi BRICS.
Jika kelompok berhasil mempertahankan kerja sama ekonomi sambil mengelola perbedaan politik, BRICS dapat menunjukkan kematangan sebagai organisasi internasional.
Sebaliknya, jika konflik membuat anggota saling berseberangan, pengaruh BRICS dapat melemah.
Karena itu, keberhasilan diplomasi India menjadi sangat penting.
Apa yang Akan Ditentukan KTT BRICS?
Ada beberapa hal yang layak diperhatikan.
Pertama, apakah deklarasi bersama benar-benar disahkan para pemimpin.
Kedua, apakah BRICS mampu mempertahankan kerja sama ekonomi meskipun terjadi perbedaan politik.
Ketiga, apakah sistem pembayaran lintas negara dapat berkembang dari sekadar gagasan menjadi mekanisme nyata.
Keempat, apakah India mampu menjaga hubungan anggota tetap stabil.
Dunia Mengamati BRICS
Perkembangan BRICS kini tidak lagi hanya diperhatikan negara berkembang.
Amerika Serikat dan negara-negara Eropa juga mengamati langkah kelompok tersebut karena dampaknya terhadap perdagangan, energi, dan tata kelola global.
Semakin besar BRICS, semakin besar pula pengaruh keputusan mereka.
Karena itu, hasil KTT New Delhi dapat menjadi indikator arah politik dan ekonomi dunia dalam beberapa tahun mendatang.
Kesimpulan
Iran jadi ujian BRICS di tengah KTT New Delhi 2026. Konflik Timur Tengah memperlihatkan perbedaan kepentingan di antara anggota, terutama karena Iran dan Uni Emirat Arab berada dalam posisi yang berlawanan dalam konflik kawasan. (reuters.com)
Namun, BRICS berhasil mencari jalan kompromi. Para perwakilan anggota telah menyepakati draf deklarasi bersama yang mengecam perang unilateral tanpa menyebut negara tertentu secara langsung. (reuters.com)
Di sisi lain, agenda ekonomi tetap berjalan. BRICS terus mendorong perdagangan, investasi, keamanan energi, serta sistem pembayaran lintas negara untuk memperkuat posisi Global South. (reuters.com)
Dengan demikian, konflik Iran justru menjadi ujian penting bagi masa depan BRICS.
Jika 11 negara tersebut mampu menjaga kerja sama meski kepentingan politik mereka berbeda, BRICS dapat semakin kuat. Namun, jika perbedaan geopolitik terus melebar, ambisi BRICS sebagai kekuatan Global South akan menghadapi tantangan besar.