
Houthi Memperluas Pengaruh di Laut Merah
SANA’A – Kelompok Houthi di Yaman kembali membuat situasi Laut Merah memanas setelah menguasai Pulau Mayun, yang juga dikenal sebagai Pulau Perim, di pintu masuk Selat Bab el-Mandeb.
Reuters melaporkan empat sumber pemerintah Yaman mengatakan pasukan Houthi mengambil alih Pulau Perim pada Jumat, 11 September 2026. Penguasaan tersebut juga disertai pengambilalihan wilayah pesisir Dhubab.
Associated Press melaporkan penguasaan Pulau Mayun telah dikonfirmasi oleh seorang pejabat senior militer dari pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional dan seorang pejabat Houthi.
Perkembangan ini langsung memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan pelayaran internasional.
Mengapa Pulau Mayun Sangat Strategis?
Pulau Mayun berada di kawasan Bab el-Mandeb, selat sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Posisinya sangat penting karena kapal yang bergerak antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez biasanya melewati kawasan tersebut.
Reuters menjelaskan bahwa Bab el-Mandeb merupakan salah satu titik sempit utama perdagangan dunia dan menjadi jalur penting bagi pengiriman minyak serta berbagai komoditas.
Karena itu, penguasaan wilayah di sekitar selat tersebut memberi Houthi posisi yang lebih strategis untuk mengawasi dan mengancam lalu lintas laut.
Jalur Dagang Asia-Eropa Ikut Terancam
Dampak paling cepat terlihat pada sektor pelayaran.
Bab el-Mandeb selama ini menjadi salah satu jalur yang menghubungkan perdagangan Asia dengan Eropa melalui Laut Merah dan Terusan Suez. Ketika keamanan kawasan menurun, perusahaan pelayaran dapat memilih rute yang lebih panjang untuk mengurangi risiko.
AP mencatat serangan Houthi sejak akhir 2023 telah menyebabkan lalu lintas pelayaran di Laut Merah turun sekitar 60%. Banyak kapal kemudian beralih mengelilingi Afrika melalui Tanjung Harapan.
Peralihan tersebut membutuhkan waktu lebih lama dan biaya bahan bakar lebih besar.
Biaya Pengiriman Minyak Sudah Melonjak
Gangguan keamanan tidak hanya memengaruhi kapal kontainer.
Kapal tanker minyak juga menghadapi risiko yang lebih tinggi.
Reuters melaporkan tarif pengiriman kapal tanker superbesar atau VLCC dari Teluk Oman menuju China telah mencapai sekitar US$11,50 per barel, level tertinggi sejak indikator tersebut diluncurkan awal tahun ini.
Kenaikan tarif menunjukkan bahwa konflik regional mulai memberikan dampak nyata terhadap biaya logistik energi.
Jika kondisi bertahan, sebagian biaya tersebut dapat diteruskan kepada konsumen.
Harga Minyak Dunia Kembali Panas
Gangguan di Bab el-Mandeb terjadi ketika pasar energi memang sudah berada dalam tekanan.
Reuters melaporkan harga minyak Brent berada di sekitar US$104,61 per barel pada Jumat, 11 September 2026, setelah sebelumnya sempat melonjak lebih tinggi di tengah gangguan pasokan dan ketegangan di Timur Tengah.
Kondisi tersebut menciptakan risiko baru.
Jika jalur perdagangan energi terganggu lebih lama, harga minyak dapat bertahan tinggi dan mendorong biaya transportasi serta produksi global.
Houthi Juga Ambil Alih Mokha
Penguasaan Pulau Mayun bukan satu-satunya perkembangan.
AP melaporkan Houthi sebelumnya telah mengambil alih pelabuhan Mokha pada Kamis, sehari sebelum merebut Pulau Mayun.
Mokha memiliki nilai sejarah dan strategis karena berada di pesisir Laut Merah.
Dengan menguasai Mokha dan Mayun, posisi Houthi di sekitar salah satu jalur laut terpenting dunia menjadi semakin kuat.
Risiko terhadap Kapal Internasional Meningkat
Penguasaan wilayah strategis tidak otomatis berarti seluruh kapal akan diserang.
Houthi sebelumnya berupaya menyampaikan bahwa kapal yang tidak terkait dengan target embargo mereka tetap aman.
Namun, AP menilai perluasan wilayah yang dikuasai meningkatkan risiko gangguan terhadap pelayaran internasional.
Perusahaan pelayaran tentu akan menghitung ulang risiko sebelum mengirim kapal melalui kawasan tersebut.
Saudi Arabia Ikut Tertekan
Perkembangan di Yaman juga memberikan tekanan kepada Arab Saudi.
Reuters melaporkan Saudi Arabia menutup East-West oil pipeline setelah terkena serangan drone yang menurut otoritas Saudi berasal dari wilayah Irak. Pipeline tersebut memiliki kapasitas sekitar 4–5 juta barel per hari.
Jalur pipa itu sangat penting karena dapat mengangkut minyak tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Kini, dua jalur alternatif energi Saudi menghadapi tekanan sekaligus: Hormuz dan Bab el-Mandeb.
Konflik Bisa Membuka Front Baru
Penguasaan Mayun dikhawatirkan menjadi bagian dari perluasan konflik Iran-Amerika Serikat ke wilayah baru.
Reuters menilai jika Houthi semakin mampu mengontrol Bab el-Mandeb, Iran berpotensi memperoleh keuntungan strategis karena dua jalur energi penting—Hormuz dan Bab el-Mandeb—sama-sama dapat terganggu.
Namun, perlu dibedakan antara dukungan Iran dan perintah langsung.
Tehran disebut memberikan dukungan dan panduan kepada Houthi, tetapi Iran tetap menyangkal mengendalikan operasi kelompok tersebut.
Dunia Mulai Khawatir soal Rantai Pasok
Gangguan di satu jalur laut dapat menghasilkan dampak berantai.
Kapal harus memutar. Waktu pengiriman bertambah. Biaya asuransi meningkat. Harga bahan bakar bertambah. Pada akhirnya, perusahaan dapat menaikkan harga barang.
Reuters mencatat kenaikan tarif tanker mulai terasa bukan hanya di Teluk, tetapi juga pada rute Afrika Barat-Asia.
Ini menunjukkan bahwa efek konflik telah melampaui kawasan Timur Tengah.
Inflasi Global Bisa Ikut Naik
Biaya pengiriman merupakan salah satu komponen dalam harga akhir barang.
Jika biaya logistik dan energi naik bersamaan, tekanan inflasi dapat semakin besar.
Reuters memperingatkan bahwa tingginya tarif pengiriman yang bertahan lama dapat menambah tekanan inflasi dan meningkatkan beban bisnis serta konsumen.
Karena itu, persoalan Houthi di Bab el-Mandeb kini menjadi isu ekonomi global.
Selat Bab el-Mandeb Bukan Jalur Biasa
Bab el-Mandeb sering disebut sebagai chokepoint perdagangan dunia.
Reuters menjelaskan selat tersebut lebarnya sekitar 18 mil dan menjadi jalur penting bagi minyak serta komoditas yang bergerak dari Asia menuju Eropa melalui Terusan Suez. Jalur ini juga menangani sekitar 7% produksi minyak dunia menurut laporan Reuters.
Karena posisinya yang sempit, gangguan dalam skala besar dapat langsung memengaruhi arus kapal.
Itulah mengapa setiap perubahan keamanan di sekitar Mayun dan Dhubab mendapat perhatian besar.
Perusahaan Pelayaran Bisa Kembali Memutar Afrika
Ketika keamanan Laut Merah memburuk, rute alternatif paling jelas adalah mengitari Tanjung Harapan di Afrika.
Masalahnya, rute ini jauh lebih panjang.
Kapal membutuhkan bahan bakar tambahan. Waktu perjalanan bertambah. Jadwal pengiriman juga menjadi kurang efisien.
AP mencatat kondisi serupa sudah terjadi setelah serangkaian serangan Houthi sebelumnya.
Jika penguasaan Mayun memicu gelombang baru gangguan, penggunaan rute Afrika dapat kembali meningkat.
Tekanan terhadap Pasokan Energi Makin Besar
Situasi semakin rumit karena gangguan terjadi di dua ujung penting perdagangan energi.
Di satu sisi, Selat Hormuz masih menghadapi ketegangan dengan Iran.
Di sisi lain, Bab el-Mandeb semakin terancam karena ekspansi Houthi.
Reuters menyebut kondisi tersebut telah menciptakan tekanan energi di kedua sisi Semenanjung Arab.
Bagi pasar global, kombinasi itu sangat berbahaya.
Saudi Tidak Bisa Sembarangan Membalas
Arab Saudi kini menghadapi pilihan sulit.
Serangan langsung terhadap Houthi dapat meningkatkan risiko konflik yang lebih luas.
Namun, tidak merespons juga dapat membuat ancaman terhadap infrastruktur dan jalur pelayaran semakin besar.
AP menggambarkan ruang gerak Riyadh semakin terbatas karena dukungan Amerika Serikat juga tidak sepenuhnya pasti.
Situasi tersebut membuat jalur diplomasi tetap penting.
Gencatan Senjata Yaman Ikut Terancam
Konflik terbaru juga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas internal Yaman.
AP melaporkan eskalasi kekerasan meningkatkan risiko runtuhnya gencatan senjata yang relatif bertahan sejak 2022. Dalam sepekan, lebih dari 46.000 orang disebut mengungsi akibat kekerasan baru di sejumlah wilayah.
Dengan demikian, persoalannya bukan hanya pelayaran internasional.
Masyarakat sipil Yaman juga menghadapi konsekuensi langsung.
Mokha dan Mayun Membentuk Koridor Strategis
Penguasaan Mokha dan Mayun memberikan Houthi akses lebih baik terhadap wilayah pesisir.
Secara geografis, posisi tersebut mendekatkan kelompok itu dengan jalur pelayaran Bab el-Mandeb.
Reuters menilai penguasaan wilayah strategis di pesisir Laut Merah dapat meningkatkan kemampuan Houthi mengancam perdagangan internasional.
Karena itu, perkembangan berikutnya di sepanjang pesisir Yaman akan sangat diperhatikan.
Pemerintah Yaman Siapkan Serangan Balasan
Reuters melaporkan pemerintah Yaman yang diakui internasional berencana melakukan serangan balasan untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.
Jika operasi tersebut dilaksanakan, konflik di pesisir Laut Merah berpotensi semakin meningkat.
Perusahaan pelayaran tentu akan mempertimbangkan perkembangan militer tersebut sebelum menentukan rute.
Diplomasi Timur Tengah Makin Rumit
Perkembangan di Bab el-Mandeb juga terjadi ketika upaya diplomatik untuk menghentikan perang regional mengalami hambatan.
Iran dan Amerika Serikat masih memiliki perbedaan tajam mengenai persyaratan negosiasi. Sementara itu, kelompok yang berafiliasi dengan Iran terus meningkatkan tekanan di beberapa titik.
Kondisi tersebut membuat jalur diplomasi semakin kompleks.
Dampaknya Bisa Sampai ke Asia
Asia menjadi salah satu wilayah yang paling sensitif terhadap gangguan Bab el-Mandeb.
Sebagian besar perdagangan energi dan barang antara Timur dan Barat melewati jalur tersebut atau terhubung dengannya.
AP mencatat perubahan rute pelayaran dapat sangat memengaruhi pengiriman menuju pasar Asia.
Karena itu, konsumen dan perusahaan di Asia juga dapat merasakan dampak konflik tersebut.
Dunia Kini Menghadapi Dua Chokepoint Sekaligus
Perkembangan terakhir memperlihatkan perubahan penting.
Dunia kini menghadapi ancaman terhadap Selat Hormuz di satu sisi dan Bab el-Mandeb di sisi lain.
Keduanya memiliki posisi penting dalam perdagangan energi global.
Jika gangguan berlangsung bersamaan, pasar minyak, gas, pelayaran, dan asuransi dapat menghadapi tekanan yang jauh lebih besar.
Apa yang Harus Dipantau Selanjutnya?
Ada beberapa perkembangan yang akan menentukan arah situasi.
Pertama, apakah Houthi mampu mempertahankan kontrol atas Mayun.
Kedua, apakah pemerintah Yaman melancarkan serangan balasan.
Ketiga, apakah perusahaan pelayaran kembali menghindari Laut Merah.
Keempat, apakah harga minyak terus bertahan di atas US$100 per barel.
Keempat faktor tersebut akan menentukan seberapa besar dampak ekonomi konflik ini.
Kesimpulan
Houthi kuasai Pulau Mayun atau Perim di pintu masuk Selat Bab el-Mandeb, memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran global. Reuters melaporkan pengambilalihan tersebut berdasarkan sumber pemerintah Yaman, sementara AP menyebutnya telah dikonfirmasi oleh pejabat pemerintah Yaman dan pihak Houthi.