Harga Minyak Meledak Mendekati US$108, Ekonomi Dunia Mulai Tertekan

https://images.openai.com/static-rsc-4/7TdOJ64WU9o1kZpOpcvinTR5B7rzzv_fUGj85crVXojT12_Xj4XgsRx37CNUI6xEj4OvHamhZsjaAhPf9O4GGg7ejS01HsMv0vWAXTz-l-FmO9w1P7pm75nl2s_C0EcnUiCJCWEBPZHaDaghHEt16hjvU6wvsA4IfUKvPAzdg7vKb0hKh1o46FX2g0GvdtzM?purpose=fullsize

https://images.openai.com/static-rsc-4/XzELgAfsvD-m9n-khua-YBjfmPUVOhZpYnMAryPD2QX_dJX2KGZRKchI7r2G-c0nJUurRpWrM-WztADtnEiBD3DTLOzmVfnRsOPVxyluGoIkiwBa1OeJspmzQfwzfg7FQ8IpqCxJOHZxb13653deo3VL92eeLtIOhP1VQeb2ibJq130iNoGZgHE_c9O0WOou?purpose=fullsize

https://images.openai.com/static-rsc-4/Z9SRTmeecuoZquYWX1bsN8neTjjDdPSEsy7XCLftK6g7YKmSCua8r17NTPfmWwivj6QxxjpcSDZBHLxQzaiG0d6rlmjizHowYHZ0V3uO5K5w1P5TmYBIPcF27lacnys62-Sd7hIWA8d0NrG5ylsybZM7QtyQbQ9POyhJMMViA5Lyn_ivMGe7XYbzJQ_UZOVw?purpose=fullsize

Harga Minyak Meledak Mendekati US$108, Ekonomi Dunia Mulai Tertekan

Pasar energi dunia kembali diguncang. Harga minyak mendekati US$108 per barel setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

Pada perdagangan Senin, 14 September 2026, harga minyak Brent naik sekitar 3% hingga mencapai US$107,81 per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat atau WTI berada di sekitar US$102,94 per barel.

Lonjakan tersebut memperlihatkan bahwa konflik geopolitik kembali menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah pasar energi dunia.

Mengapa Harga Minyak Mendekati US$108?

Kenaikan harga minyak terjadi setelah sejumlah jalur energi strategis di Timur Tengah mengalami gangguan.

Salah satu faktor terbesar adalah penutupan sementara East-West Pipeline milik Arab Saudi setelah serangan drone. Jalur tersebut merupakan alternatif penting untuk mengirim minyak Saudi menuju Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz.

Reuters melaporkan bahwa pipa tersebut biasanya membawa sekitar 4 juta hingga 5 juta barel minyak per hari, atau sekitar 4%–5% pasokan minyak global.

Dengan jalur tersebut terganggu, pasar langsung memperhitungkan kemungkinan berkurangnya pasokan minyak dunia.

Selat Hormuz Juga Masih Jadi Ancaman

Selain masalah pipa Saudi, ketegangan di Selat Hormuz ikut meningkatkan kecemasan pasar.

Selat tersebut merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut dapat membuat perusahaan minyak dan operator kapal menghadapi risiko yang jauh lebih besar.

Reuters melaporkan sebuah kapal di Selat Hormuz terkena proyektil dan mengalami kebakaran sehingga awaknya harus dievakuasi. Pada saat yang sama, ketegangan juga meningkat di sekitar jalur Bab el-Mandeb.

Akibatnya, investor mulai memasukkan premi risiko yang lebih besar ke dalam harga minyak.

Pasokan Saudi Ikut Terancam

Gangguan terhadap East-West Pipeline menjadi perhatian karena jalur tersebut selama ini membantu Arab Saudi mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.

Reuters melaporkan persediaan minyak di pelabuhan Yanbu diperkirakan hanya mampu menopang ekspor selama sekitar lima hingga tujuh hari jika pipa tersebut tidak segera kembali beroperasi.

Situasi ini membuat pasar semakin sensitif terhadap perkembangan konflik.

Jika gangguan berlangsung lebih lama, tekanan terhadap pasokan global dapat meningkat.

Harga Minyak Naik, Inflasi Dunia Terancam

Kenaikan harga minyak tidak berhenti di pasar energi.

Minyak merupakan bahan bakar utama untuk transportasi, industri, penerbangan, dan berbagai aktivitas ekonomi. Karena itu, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi.

Jika biaya tersebut diteruskan kepada konsumen, harga berbagai barang dan jasa juga dapat meningkat.

Dengan kata lain, harga minyak mendekati US$108 berpotensi menjadi masalah baru bagi bank sentral yang sedang berusaha mengendalikan inflasi.

Bank Sentral Dunia Menghadapi Dilema

Lonjakan harga energi datang pada saat kebijakan moneter global sedang berada dalam kondisi sensitif.

Reuters melaporkan pasar kini memperkirakan peluang sekitar 86% untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan ini. Kenaikan harga minyak membuat keputusan tersebut semakin rumit karena energi dapat memperkuat tekanan inflasi.

Jika bank sentral menaikkan suku bunga, tekanan terhadap inflasi dapat dikurangi. Namun, biaya pinjaman yang lebih tinggi juga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Inilah dilema yang kini dihadapi banyak pembuat kebijakan.

Biaya Pengiriman Kapal Ikut Melonjak

Masalahnya tidak hanya berada pada harga minyak.

Gangguan di jalur perdagangan Timur Tengah juga membuat biaya pengiriman energi meningkat.

Reuters melaporkan tarif kapal tanker telah mencapai level rekor. Operator yang memilih memutar melalui sekitar Afrika dapat membutuhkan waktu sekitar 22 hari lebih lama untuk mencapai pasar Asia.

Waktu perjalanan yang lebih panjang berarti konsumsi bahan bakar, biaya sewa kapal, dan biaya asuransi ikut meningkat.

Pada akhirnya, biaya tersebut dapat masuk ke harga produk yang dibayar konsumen.

Risiko Ekonomi Dunia Semakin Besar

Kondisi tersebut menciptakan efek berantai bagi perekonomian global.

Konflik meningkat → jalur energi terganggu → harga minyak naik → biaya transportasi meningkat → inflasi tertekan naik → bank sentral berpotensi memperketat kebijakan.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama, pertumbuhan ekonomi dunia juga berpotensi mendapatkan tekanan.

Reuters bahkan menilai pasar minyak kini menghadapi fase yang lebih panjang dan tidak pasti karena sejumlah jalur energi penting mengalami gangguan secara bersamaan.

Apakah Harga Minyak Bisa Menembus US$110?

Pertanyaan tersebut kini mulai muncul di pasar.

Selama gangguan pasokan dan ketegangan di Timur Tengah terus berlangsung, risiko kenaikan harga tetap terbuka. Namun, arah minyak juga sangat bergantung pada perkembangan konflik, pemulihan infrastruktur Saudi, kondisi pelayaran, serta kemampuan produsen mempertahankan pasokan.

Karena itu, US$108 bukan berarti batas akhir. Pasar masih sangat sensitif terhadap setiap berita baru mengenai jalur minyak dan keamanan kapal tanker.

Kesimpulan

Harga minyak mendekati US$108 per barel setelah ketegangan Timur Tengah kembali mengganggu jalur energi strategis. Brent mencapai sekitar US$107,81 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$102,94.

Penutupan sementara East-West Pipeline Saudi, gangguan di Selat Hormuz, dan meningkatnya risiko di Bab el-Mandeb membuat kekhawatiran terhadap pasokan minyak global semakin besar.

Dampaknya juga dapat merembet ke sektor lain. Jika harga energi terus tinggi, inflasi, biaya pengiriman, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi dunia berpotensi ikut terdampak.

vertu789