
JAKARTA – Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) menegaskan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh disinformasi yang beredar di media sosial, termasuk video-video demonstrasi lama yang kembali diviralkan oleh akun-akun tidak bertanggung jawab.
Peringatan tersebut menjadi penting di tengah derasnya arus informasi digital. Video demonstrasi dari tahun-tahun sebelumnya dapat kembali muncul di beranda media sosial dengan narasi baru, judul yang provokatif, bahkan keterangan waktu dan lokasi yang tidak sesuai dengan peristiwa sebenarnya.
Akibatnya, masyarakat yang melihat potongan video tanpa memeriksa sumber dan konteks berpotensi menganggap peristiwa lama sebagai kejadian baru.
Satu video lama bisa terlihat seperti berita hari ini hanya karena diberi narasi baru.
Inilah yang membuat pemerintah meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak langsung mempercayai setiap konten viral yang muncul di media sosial.
Video Lama, Narasi Baru, Publik Bisa Terkecoh
Perkembangan teknologi membuat penyebaran informasi berlangsung sangat cepat.
Sebuah video dapat direkam bertahun-tahun lalu, kemudian diunggah kembali dalam beberapa menit. Jika video tersebut dipotong, diberi musik dramatis, atau disertai narasi yang provokatif, konten lama itu bisa kembali menjadi viral.
Masalahnya, tidak semua pengguna media sosial memeriksa kapan video tersebut pertama kali direkam.
Tidak semua orang melihat sumber asli.
Bahkan, sebagian hanya membaca judul atau melihat beberapa detik pertama sebelum membagikannya kembali.
Dari sinilah disinformasi dapat berkembang.
Video demonstrasi lama yang sebenarnya tidak berkaitan dengan situasi terkini bisa digunakan untuk menciptakan kesan seolah-olah terjadi kerusuhan, aksi besar, atau kondisi darurat pada saat ini.
Menko Polkam Minta Masyarakat Tidak Mudah Terprovokasi
Pemerintah mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Terutama terhadap unggahan yang menggunakan narasi emosional seperti:
“Situasi makin mencekam!”
“Demo besar terjadi hari ini!”
“Kota mulai chaos!”
“Video ini baru saja terjadi!”
Narasi semacam itu dapat menarik perhatian dan membuat pengguna media sosial langsung membagikannya.
Padahal, sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi, masyarakat perlu memastikan terlebih dahulu waktu, lokasi, sumber, dan konteks video.
Pesan pemerintah cukup jelas: jangan sampai masyarakat mengambil kesimpulan hanya berdasarkan konten viral tanpa verifikasi.
Akun Tidak Bertanggung Jawab Memanfaatkan Momentum
Media sosial memungkinkan siapa pun membuat dan menyebarkan konten.
Hal ini memberikan ruang besar bagi kebebasan berekspresi, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang sengaja menyebarkan informasi menyesatkan.
Ada akun yang dapat mengambil video lama, menghapus konteks asli, lalu menambahkan narasi baru.
Tujuannya bisa beragam.
Mulai dari mengejar jumlah penonton, meningkatkan interaksi, mencari keuntungan dari trafik, hingga memancing emosi masyarakat.
Konten yang membuat marah, takut, atau panik sering kali lebih cepat menyebar.
Karena itu, akun tidak bertanggung jawab dapat memanfaatkan emosi publik sebagai bahan bakar untuk membuat sebuah unggahan menjadi viral.
Semakin banyak orang membagikan tanpa memeriksa, semakin cepat disinformasi menyebar.
Jangan Langsung Percaya, Periksa 5 Hal Ini
Masyarakat dapat melakukan pemeriksaan sederhana sebelum mempercayai video yang diklaim sebagai peristiwa terbaru.
1. Periksa Kapan Video Diunggah
Lihat tanggal unggahan.
Namun, jangan berhenti sampai di situ.
Video yang baru diunggah belum tentu merupakan video yang baru direkam. Bisa saja rekamannya berasal dari peristiwa beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun lalu.
2. Cari Sumber Video Pertama
Jika memungkinkan, telusuri siapa yang pertama kali mengunggah video tersebut.
Akun resmi, media kredibel, atau sumber yang jelas umumnya memberikan informasi lebih lengkap mengenai lokasi dan waktu kejadian.
3. Perhatikan Detail dalam Video
Lihat petunjuk visual yang tersedia.
Misalnya:
- Spanduk dan tulisan.
- Nomor kendaraan.
- Nama gedung atau jalan.
- Kondisi cuaca.
- Seragam petugas.
- Tanggal pada layar atau objek tertentu.
Detail kecil dapat membantu mengetahui apakah narasi yang beredar sesuai dengan video.
4. Bandingkan dengan Berita Terpercaya
Jika sebuah peristiwa benar-benar besar, biasanya terdapat informasi dari lebih dari satu sumber terpercaya.
Masyarakat dapat membandingkan informasi yang beredar dengan laporan media kredibel atau pengumuman resmi.
5. Jangan Terburu-buru Menekan Tombol Bagikan
Ini merupakan langkah yang paling sederhana, tetapi sangat penting.
Jika masih ragu, jangan langsung membagikan.
Menunda beberapa menit untuk memeriksa fakta jauh lebih baik daripada ikut menyebarkan informasi yang ternyata salah.
Disinformasi Bisa Memicu Kepanikan
Banyak orang mungkin menganggap unggahan video lama sebagai persoalan sepele.
Namun, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Bayangkan sebuah video demonstrasi besar dari masa lalu diunggah kembali dan diberi keterangan bahwa aksi tersebut sedang berlangsung hari ini.
Warga yang tinggal di daerah lain bisa merasa panik.
Keluarga mungkin langsung menghubungi kerabatnya.
Masyarakat bisa membatalkan aktivitas.
Informasi yang salah juga dapat memicu kekhawatiran berlebihan.
Dalam kondisi tertentu, disinformasi bahkan dapat menciptakan ketegangan sosial.
Karena itu, memeriksa informasi bukan hanya soal mengetahui benar atau salah.
Verifikasi informasi juga menjadi bagian dari upaya menjaga ketenangan masyarakat.
Media Sosial Bukan Selalu Sumber Berita Primer
Masyarakat perlu memahami bahwa konten yang muncul di media sosial tidak selalu berasal dari sumber utama.
Sebuah informasi dapat mengalami perjalanan panjang.
Berawal dari satu unggahan, kemudian dipotong menjadi video pendek, ditambahkan teks, dibagikan ulang oleh akun lain, dan akhirnya beredar tanpa sumber asli.
Setelah beberapa kali berpindah akun, konteks awalnya bisa hilang.
Yang tersisa hanya gambar dan narasi baru.
Karena itu, popularitas sebuah unggahan tidak dapat dijadikan bukti bahwa informasi tersebut benar.
Viral bukan berarti faktual.
Banyak dibagikan bukan berarti sudah terverifikasi.
Ribuan komentar bukan berarti narasinya benar.
Waspadai Judul yang Terlalu Memancing Emosi
Salah satu ciri konten yang perlu diperiksa lebih lanjut adalah penggunaan judul yang terlalu dramatis.
Misalnya:
“Ini yang Tidak Diberitakan Media!”
“Situasi Sebenarnya Lebih Mengerikan!”
“Sebelum Dihapus, Sebarkan Sekarang!”
“Media Diam, Video Ini Bongkar Semuanya!”
Tidak semua konten dengan judul seperti itu otomatis salah.
Namun, penggunaan bahasa yang sengaja membangun rasa takut atau mendesak orang untuk segera membagikan konten patut menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan tambahan.
Akun penyebar disinformasi sering memanfaatkan rasa penasaran dan emosi agar pengguna tidak sempat berpikir panjang.
Peran Masyarakat Sangat Penting
Pemerintah memang dapat memberikan klarifikasi.
Media dapat melakukan pemeriksaan fakta.
Platform digital juga dapat mengambil langkah terhadap konten tertentu sesuai kebijakannya.
Namun, masyarakat tetap memiliki peran penting.
Setiap pengguna media sosial sebenarnya menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi.
Ketika seseorang berhenti membagikan konten yang meragukan, rantai disinformasi dapat terputus.
Sebaliknya, satu unggahan yang dibagikan tanpa verifikasi dapat terus menyebar ke banyak kelompok percakapan dan platform lain.
Karena itu, literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan aplikasi.
Literasi digital juga berarti mampu bertanya:
Dari mana informasi ini berasal?
Kapan peristiwa ini terjadi?
Apakah videonya asli?
Apakah narasinya sesuai konteks?
Apakah sudah ada sumber terpercaya yang mengonfirmasi?
Jangan Menjadi Korban Sekaligus Penyebar Hoaks
Ada satu risiko besar dalam era digital.
Seseorang bisa menjadi korban disinformasi sekaligus tanpa sadar menjadi penyebarnya.
Awalnya, seseorang melihat video yang tampak meyakinkan.
Karena merasa informasi tersebut penting, video langsung diteruskan ke keluarga, teman, atau grup percakapan.
Belakangan diketahui bahwa video itu ternyata rekaman lama.
Meskipun pengirim tidak memiliki niat buruk, dampaknya tetap ada.
Informasi yang salah sudah terlanjur beredar.
Karena itu, sikap yang paling aman adalah:
Berhenti sejenak.
Periksa faktanya.
Cari sumbernya.
Baru tentukan apakah informasi layak dipercaya dan dibagikan.
Pemerintah Ingatkan Publik Tetap Tenang
Peringatan Menko Polkam menjadi pengingat bahwa kondisi digital saat ini membutuhkan kewaspadaan baru.
Ancaman tidak selalu datang dalam bentuk informasi palsu yang terlihat jelas.
Kadang-kadang, video yang digunakan adalah video asli.
Peristiwanya benar-benar pernah terjadi.
Lokasinya juga nyata.
Namun, konteks waktu dan narasinya telah diubah.
Inilah yang membuat disinformasi berbasis video lama menjadi lebih sulit dikenali.
Karena gambarnya nyata, masyarakat cenderung lebih mudah percaya.
Padahal, konteks merupakan bagian yang sangat penting dalam sebuah informasi.
Jangan Biarkan Video Lama Mengendalikan Persepsi Hari Ini
Perkembangan media sosial membuat informasi bergerak tanpa henti.
Setiap hari, masyarakat melihat ribuan unggahan.
Di tengah derasnya konten tersebut, video demonstrasi lama dapat kembali muncul dengan cerita baru dan menciptakan persepsi yang keliru.
Pemerintah melalui Menko Polkam menegaskan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh disinformasi maupun konten lama yang kembali diviralkan oleh akun tidak bertanggung jawab.
Pesan utamanya sederhana, tetapi sangat penting:
Jangan mudah percaya.
Jangan mudah terpancing.
Jangan terburu-buru membagikan.
Periksa sumber, waktu, lokasi, dan konteks sebelum mengambil kesimpulan.
Di era ketika satu video dapat menyebar ke jutaan orang hanya dalam waktu singkat, kemampuan memeriksa fakta menjadi benteng penting bagi masyarakat.