
Bukan Cuma Korban Gempa, 35 Kasus Gigitan Hewan di NTT Ditangani Kemenkes
NTT – Penanganan kesehatan pascagempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus diperkuat pemerintah. Selain menangani korban luka dan berbagai penyakit di lokasi pengungsian, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga menangani 35 kasus gigitan hewan penular rabies di Kabupaten Nagekeo.
Seluruh kasus tersebut telah mendapatkan vaksinasi lengkap. Langkah ini dilakukan untuk mencegah risiko rabies setelah warga mengalami gigitan hewan yang berpotensi menularkan penyakit tersebut.
35 Kasus Gigitan Rabies Ditangani
Kemenkes mencatat terdapat 35 kasus gigitan hewan penular rabies di Nagekeo selama masa penanganan pascagempa.
Kemenkes memastikan seluruh kasus telah mendapatkan vaksinasi lengkap. Dengan penanganan tersebut, petugas berupaya mencegah berkembangnya kasus rabies di tengah kondisi darurat bencana.
Perlu dicatat, 35 kasus tersebut merupakan kasus gigitan hewan penular rabies, bukan 35 orang yang sudah dinyatakan positif rabies.
ISPA Jadi Keluhan Terbanyak
Selain kasus gigitan hewan, masalah kesehatan lain juga muncul di lokasi pengungsian.
Kemenkes mencatat 9.668 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). ISPA menjadi keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan selama masa penanganan pascagempa.
Kondisi pengungsian yang padat dapat meningkatkan risiko penularan penyakit pernapasan. Karena itu, kebersihan lingkungan dan akses layanan kesehatan menjadi perhatian pemerintah.
Gempa Berdampak ke Tujuh Kabupaten
Gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores berdampak pada sejumlah kabupaten di NTT.
Kemenkes menyebut tujuh wilayah yang terdampak meliputi Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sikka, Ende, dan Ngada.
Besarnya wilayah terdampak membuat kebutuhan pelayanan kesehatan menjadi sangat tinggi.
Lebih dari 185 Ribu Warga Mengungsi
Hingga 26 Agustus 2026, lebih dari 185.000 warga tersebar di 444 titik pengungsian.
Kemenkes juga mencatat total warga terdampak di tujuh kabupaten mencapai sekitar 1,91 juta orang.
Jumlah tersebut membuat pemerintah harus memperkuat layanan kesehatan sekaligus memastikan ketersediaan obat dan vaksin.
392 Tenaga Kesehatan Dikerahkan
Untuk memperkuat penanganan medis, Kemenkes mengerahkan 392 tenaga kesehatan ke wilayah terdampak.
Tim tersebut membantu pelayanan kesehatan bagi korban gempa, termasuk pasien yang membutuhkan penanganan darurat dan perawatan lanjutan.
Mobilisasi tenaga kesehatan menjadi penting karena sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan akibat gempa.
Kemenkes Bangun Rumah Sakit Lapangan
Kemenkes juga mendirikan dua rumah sakit lapangan berbasis tenda udara atau inflatable.
Fasilitas tersebut berada di Aeramo, Kabupaten Nagekeo, dan RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai.
Rumah sakit lapangan tersebut memungkinkan dokter tetap melakukan tindakan medis meskipun gempa susulan masih terjadi.
Operasi Tetap Berjalan Saat Gempa Susulan
Salah satu tim medis bahkan sempat merasakan gempa susulan ketika melakukan operasi.
Dokter Alfin Bakhtiar Ilhami dari tim RSUD Dr. Soetomo mengatakan operasi tetap dapat dilanjutkan karena tindakan dilakukan di rumah sakit lapangan dengan struktur inflatable.
Fasilitas tersebut dirancang untuk memberikan ruang pelayanan medis yang lebih aman dalam situasi bencana.
18 Pasien Sudah Ditangani
Tim medis melaporkan telah menangani 18 pasien di rumah sakit lapangan dalam satu pekan terakhir.
Sebanyak empat pasien mendapat perawatan konservatif, sedangkan 14 pasien menjalani operasi.
Salah satu operasi yang dilakukan merupakan kasus kompleks karena pasien mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuh.
105 Orang Meninggal Akibat Gempa
Data Kemenkes hingga 26 Agustus 2026 mencatat 105 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Selain itu, terdapat 385 korban luka berat yang masih mendapatkan perawatan intensif. Sebanyak 1.287 orang mengalami luka ringan.
Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan layanan kesehatan di wilayah terdampak.
Warga Pengungsi Rentan Mengalami Masalah Kesehatan
Situasi di lokasi pengungsian menjadi perhatian pemerintah.
Selain ISPA dan kasus gigitan hewan, petugas kesehatan harus mengantisipasi berbagai masalah yang dapat muncul akibat kepadatan pengungsian, keterbatasan air bersih, sanitasi, serta perubahan kondisi lingkungan.
Karena itu, Kemenkes meminta masyarakat tetap menjaga kebersihan dan segera mendatangi posko kesehatan jika mengalami keluhan.
Vaksinasi Rabies Jadi Langkah Pencegahan
Rabies merupakan penyakit yang dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani setelah seseorang terpapar virus.
Karena itu, penanganan cepat terhadap korban gigitan hewan menjadi penting.
Dalam kasus di Nagekeo, Kemenkes menyatakan seluruh 35 kasus telah memperoleh vaksinasi lengkap.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pencegahan penyakit di tengah kondisi pascabencana.
Logistik Medis Terus Dijaga
Kemenkes memastikan ketersediaan logistik medis, alat kesehatan, dan sistem rujukan tetap berjalan.
Upaya tersebut dilakukan agar pasien yang membutuhkan pelayanan lebih lanjut dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memiliki kemampuan penanganan sesuai kebutuhan.
Ketersediaan vaksin juga menjadi bagian penting dalam penanganan kasus gigitan hewan.
Masyarakat Diminta Menjaga Kebersihan
Kondisi pengungsian membutuhkan perhatian khusus terhadap kebersihan lingkungan.
Kemenkes mengimbau masyarakat terdampak untuk menjaga kebersihan di area pengungsian dan segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan kesehatan.
Langkah sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan dapat membantu mengurangi risiko penyakit selama masa tanggap darurat.
Penanganan Tidak Hanya Fokus pada Korban Luka
Bencana besar membutuhkan penanganan kesehatan secara menyeluruh.
Pemerintah tidak hanya merawat korban luka akibat gempa, tetapi juga mengantisipasi penyakit yang muncul setelah masyarakat berada di pengungsian.
Kasus ISPA dan gigitan hewan penular rabies menjadi contoh bahwa kondisi kesehatan pascabencana dapat berkembang menjadi persoalan yang berbeda dari cedera akibat gempa.
Kemenkes Perkuat Layanan di NTT
Dengan ratusan tenaga kesehatan, rumah sakit lapangan, serta dukungan logistik medis, pemerintah terus memperkuat layanan kesehatan di wilayah terdampak.
Penanganan 35 kasus gigitan hewan penular rabies juga menjadi bagian dari strategi mencegah masalah kesehatan tambahan selama masa pemulihan.
Fakta Penting Kesehatan Pascagempa NTT
- 35 kasus gigitan hewan penular rabies ditemukan di Nagekeo.
- Seluruh 35 kasus tersebut telah mendapatkan vaksinasi lengkap.
- Kemenkes mencatat 9.668 kasus ISPA.
- Sebanyak 392 tenaga kesehatan dikerahkan.
- Lebih dari 185.000 warga berada di 444 titik pengungsian.
- Total warga terdampak mencapai sekitar 1,91 juta orang di tujuh kabupaten.
- Kemenkes mendirikan dua rumah sakit lapangan inflatable.
- Hingga 26 Agustus 2026, tercatat 105 orang meninggal dan 385 korban luka berat masih dirawat.
Pascagempa NTT, Kemenkes Waspadai Penyakit Menular
Penanganan gempa NTT kini tidak hanya berfokus pada korban luka dan kerusakan infrastruktur. Kemenkes juga mengantisipasi masalah kesehatan di pengungsian, termasuk 35 kasus gigitan hewan penular rabies di Nagekeo yang seluruhnya telah mendapatkan vaksinasi lengkap.