
TEL AVIV – Sejumlah pejabat keamanan Israel dilaporkan mencurigai langkah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam menghadapi ketegangan regional. Mereka khawatir keputusan untuk meningkatkan tekanan terhadap negara lain justru dapat membuka konflik baru.
Kecurigaan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan Israel dengan sejumlah pihak di kawasan Timur Tengah. Salah satu yang menjadi perhatian adalah hubungan Israel dan Turki setelah serangan Israel terhadap fasilitas di Suriah.
Pejabat Israel Khawatir Konflik Semakin Meluas
Sejumlah pejabat keamanan Israel disebut memperingatkan Netanyahu agar tidak membawa ketegangan dengan Turki menuju konfrontasi yang lebih besar.
Peringatan itu muncul setelah Israel melancarkan serangan terhadap Pangkalan Udara Abu Al Duhur di Provinsi Idlib, Suriah, pada 18 Agustus 2026. Lokasi tersebut berada sekitar 70 kilometer dari perbatasan Turki.
Israel menyebut fasilitas tersebut berpotensi digunakan sebagai pangkalan militer Turki. Namun, pemerintah Suriah dan Turki membantah tuduhan tersebut.
Pejabat keamanan Israel disebut lebih memilih menghindari perselisihan terbuka dengan Turki. Mereka khawatir ketegangan tersebut berkembang menjadi konflik yang lebih luas dan sulit dikendalikan.
Netanyahu Disebut Punya Pertimbangan Politik
Kekhawatiran terhadap kebijakan Netanyahu juga tidak terlepas dari situasi politik dalam negeri Israel.
Pemilu anggota parlemen Knesset dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026. Menjelang pemilu tersebut, pemerintahan Netanyahu disebut berupaya mendapatkan dukungan dari masyarakat, terutama kelompok sayap kanan.
Netanyahu dan Partai Likud juga semakin sering memasukkan Turki serta Presiden Recep Tayyip Erdogan dalam pernyataan politik mereka. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa isu keamanan regional dapat menjadi bagian dari dinamika politik menjelang pemilu.
Namun, dugaan mengenai adanya kepentingan politik di balik kebijakan Netanyahu tetap merupakan penilaian atau kecurigaan sejumlah pihak. Belum ada bukti yang menunjukkan bahwa Netanyahu secara sengaja memicu konflik semata-mata untuk kepentingan politik.
Ketegangan Israel dan Turki Jadi Sorotan
Ketegangan antara Israel dan Turki meningkat setelah serangan Israel di wilayah Suriah.
Beberapa pejabat keamanan Israel dilaporkan ingin menghindari pernyataan terbuka mengenai operasi tersebut. Langkah itu dinilai dapat mengurangi risiko terjadinya konfrontasi langsung dengan Turki.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa sebagian kalangan keamanan Israel menyadari potensi risiko dari eskalasi konflik baru di kawasan.
Konflik Regional Masih Menjadi Perhatian
Selain ketegangan dengan Turki, Israel juga masih menghadapi persoalan keamanan di Gaza dan kawasan sekitarnya.
Pemerintah Netanyahu tetap mempertahankan sikap keras terkait operasi militernya. Pada saat yang sama, terdapat pembahasan mengenai opsi diplomatik dan militer terkait konflik regional, termasuk Iran.
Perkembangan tersebut membuat kebijakan Netanyahu menjadi perhatian, terutama karena setiap keputusan militer Israel berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah.
Belum Ada Kepastian Netanyahu Sengaja Memicu Konflik
Kecurigaan sejumlah pejabat Israel terhadap Netanyahu perlu dibedakan dari fakta yang telah terbukti.
Hingga kini, tidak terdapat bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Netanyahu sengaja memicu eskalasi konflik hanya untuk menunda agenda politik tertentu.
Yang dapat dipastikan adalah adanya kekhawatiran dari sejumlah pejabat keamanan Israel mengenai risiko konfrontasi yang semakin luas. Mereka menilai perselisihan dengan negara seperti Turki perlu dikelola secara hati-hati agar tidak berubah menjadi konflik terbuka.
Situasi ini menunjukkan bahwa keputusan pemerintah Israel dalam menghadapi ketegangan regional tidak hanya mendapat perhatian dari negara-negara lain, tetapi juga menimbulkan perdebatan di dalam Israel sendiri.