
JAKARTA – Momen menarik datang dari dunia diplomasi. Duta Besar Laos untuk Indonesia, Khamfeuang Phanthaxay, mencuri perhatian saat tampil memberikan sambutan menggunakan bahasa Indonesia. Tak hanya berbicara dengan cukup lancar, ia juga membuka sambutannya dengan ucapan “Assalamualaikum”, yang langsung menjadi sorotan.
Momen tersebut terjadi dalam acara Apresiasi Handai Indonesia 2026 dan videonya kemudian ramai diperbincangkan. Dalam beberapa unggahan video yang beredar, Dubes Laos tampak percaya diri menyampaikan pidato dalam bahasa Indonesia. Bahkan, ada momen ketika mikrofon sempat mengalami gangguan, namun ia tetap melanjutkan sambutannya.
Bagi banyak orang, kemampuan seorang diplomat asing menggunakan bahasa Indonesia di hadapan publik tentu menjadi pemandangan yang menarik.
Bukan sekadar soal bisa berbicara, tetapi juga tentang penghormatan terhadap bahasa dan budaya negara tempatnya bertugas.
🎤 “Assalamualaikum”, Pembuka yang Langsung Mencuri Perhatian
Saat memulai sambutannya, Khamfeuang Phanthaxay mengucapkan salam “Assalamualaikum”. Ucapan sederhana itu menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian publik Indonesia.
Dalam penggunaan bahasa Indonesia, “assalamualaikum” dikenal sebagai ucapan salam yang bermakna keselamatan, kesejahteraan, atau kedamaian untuk orang yang disapa. Ucapan ini juga lazim digunakan dalam pertemuan dan pembukaan pidato.
Ketika seorang diplomat dari negara lain menggunakannya dalam sambutan berbahasa Indonesia, momen tersebut terasa semakin spesial.
Sebab, bahasa ternyata mampu menjadi jembatan yang melampaui batas negara.
🇮🇩 Lancar Berbahasa Indonesia, Dubes Laos Tuai Perhatian
Kemampuan Khamfeuang Phanthaxay menggunakan bahasa Indonesia sebenarnya mencerminkan pentingnya penguasaan bahasa lokal dalam dunia diplomasi.
Seorang diplomat tidak hanya berbicara dalam ruang pertemuan resmi.
Mereka juga harus berinteraksi dengan masyarakat, pejabat, media, hingga berbagai komunitas di negara tempat bertugas.
Kemampuan menggunakan bahasa Indonesia dapat membuat komunikasi terasa lebih dekat.
Bukan lagi sekadar hubungan formal antarpemerintah.
Melainkan juga hubungan antarmanusia.
Momen Dubes Laos berbicara menggunakan bahasa Indonesia pun memperlihatkan bagaimana bahasa dapat menjadi bentuk penghormatan sekaligus pendekatan budaya.
😮 Sempat Hadapi Gangguan Mikrofon, Tetap Tenang Lanjutkan Pidato
Salah satu momen yang juga menarik perhatian adalah ketika mikrofon sempat mengalami gangguan.
Situasi seperti itu tentu bisa membuat suasana menjadi canggung.
Namun, Dubes Laos tetap berusaha melanjutkan sambutannya.
Video mengenai kejadian tersebut menggambarkan bagaimana Khamfeuang Phanthaxay tetap tenang saat menghadapi kendala teknis di tengah acara.
Justru dari situ muncul sisi menarik lainnya.
Kemampuan berbahasa Indonesia yang ditunjukkannya bukan sekadar untuk beberapa kata pembuka.
Ia tampil menyampaikan sambutan dalam bahasa Indonesia di hadapan para peserta.
🤝 Siapa Khamfeuang Phanthaxay?
Khamfeuang Phanthaxay merupakan Duta Besar Republik Demokratik Rakyat Laos untuk Indonesia.
Namanya juga tercatat dalam kegiatan resmi pemerintah Indonesia. Pada Mei 2026, ia hadir dalam agenda pertemuan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan Wakil Perdana Menteri Laos di Jakarta.
Ia juga merupakan diplomat Laos yang telah menjalankan tugas resmi di Indonesia selama beberapa waktu.
Dalam dunia diplomasi, kemampuan memahami budaya dan bahasa negara tempat bertugas tentu menjadi nilai penting.
Dan momen menggunakan bahasa Indonesia ini menunjukkan salah satu bentuk kedekatan tersebut.
🌏 Bahasa Indonesia Jadi Jembatan Diplomasi
Apa yang dilakukan Dubes Laos bukan sekadar momen viral.
Ada makna yang lebih besar di baliknya.
Bahasa adalah salah satu alat diplomasi paling kuat.
Ketika seorang diplomat asing mencoba berbicara menggunakan bahasa masyarakat setempat, pesan yang disampaikan dapat terasa lebih dekat.
Tidak perlu selalu menggunakan bahasa internasional.
Terkadang, satu kalimat sederhana dalam bahasa lokal sudah cukup untuk menciptakan kehangatan.
Indonesia sendiri terus mendorong pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing. KBRI Vientiane, misalnya, menyelenggarakan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing atau BIPA sebagai bagian dari penguatan hubungan pendidikan dan budaya Indonesia-Laos.
Artinya, hubungan kedua negara juga berkembang melalui pertukaran bahasa dan budaya.
🇱🇦🤝🇮🇩 Hubungan Indonesia dan Laos Semakin Dekat
Indonesia dan Laos telah lama menjalin hubungan bilateral.
Pada 2026, kedua negara juga terus membahas peluang kerja sama di berbagai bidang.
Pertemuan antara pemerintah Indonesia dan delegasi Laos pada Mei 2026 membicarakan sejumlah isu strategis, termasuk penguatan kerja sama ASEAN dan peluang kerja sama terkait ketahanan pangan.
Di tengah hubungan antarpemerintah tersebut, interaksi budaya tetap memiliki peran penting.
Momen seorang Dubes Laos menggunakan bahasa Indonesia bisa menjadi gambaran sederhana tentang hubungan yang lebih dekat.
Diplomasi tidak selalu berbicara soal perjanjian besar.
Kadang, diplomasi juga hadir melalui bahasa.
Melalui sapaan.
Dan melalui keberanian untuk berbicara menggunakan bahasa negara sahabat.
🔥 Kenapa Momen Ini Begitu Menarik?
Ada beberapa alasan mengapa aksi Dubes Laos tersebut menjadi perhatian.
1. Diplomat Asing Berbicara Bahasa Indonesia
Masyarakat tentu senang melihat warga negara asing, terlebih seorang duta besar, mampu menggunakan bahasa Indonesia.
2. Membuka dengan “Assalamualaikum”
Ucapan pembuka tersebut terasa akrab bagi masyarakat Indonesia dan langsung menciptakan suasana yang lebih dekat.
3. Menunjukkan Penghormatan terhadap Budaya Lokal
Menggunakan bahasa negara tempat bertugas dapat menjadi salah satu bentuk penghargaan terhadap masyarakat dan budaya setempat.
4. Bukti Bahasa Indonesia Memiliki Daya Tarik Internasional
Pembelajaran bahasa Indonesia oleh penutur asing terus dikembangkan melalui berbagai program pendidikan dan diplomasi kebahasaan.
5. Diplomasi Bisa Terasa Hangat
Tidak semua hubungan antarnegara harus ditampilkan melalui bahasa diplomatik yang kaku.
Satu ucapan sederhana bisa menciptakan kesan positif.
💬 Reaksi Publik: Kagum dengan Kemampuan Sang Dubes
Momen tersebut kemudian menyebar melalui berbagai unggahan video.
Judul-judul video yang beredar bahkan menyoroti kelancaran Khamfeuang Phanthaxay dalam berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Salah satu unggahan menyebut sang Dubes “lancar banget”, sementara unggahan lain menyoroti aksinya yang tetap memberikan pidato setelah sempat menghadapi masalah mikrofon.
Tak mengherankan jika publik memberikan perhatian.
Sebab, ada kebanggaan tersendiri ketika bahasa Indonesia digunakan oleh tokoh dari negara lain dalam sebuah forum resmi.
🌐 Bahasa Bukan Sekadar Alat Bicara
Momen Dubes Laos ini kembali mengingatkan bahwa bahasa memiliki kekuatan yang besar.
Bahasa dapat:
- mempererat hubungan antarbangsa;
- mengurangi jarak budaya;
- membuat komunikasi lebih akrab;
- menunjukkan rasa hormat;
- dan memperkuat hubungan antarmasyarakat.
Dalam dunia yang semakin global, kemampuan berbicara menggunakan bahasa negara lain bisa menjadi kekuatan diplomasi.
Dan ketika bahasa itu adalah bahasa Indonesia, tentu ada kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Tanah Air.
✨ Dari “Assalamualaikum” hingga Diplomasi yang Lebih Hangat
Aksi Khamfeuang Phanthaxay berbicara menggunakan bahasa Indonesia menjadi salah satu momen menarik dalam dunia diplomasi.
Dari ucapan “Assalamualaikum” di awal sambutan hingga pidato yang disampaikan dalam bahasa Indonesia, Dubes Laos tersebut menunjukkan upaya untuk berkomunikasi lebih dekat dengan masyarakat Indonesia.
Momen ini juga menjadi pengingat bahwa hubungan dua negara tidak hanya dibangun melalui pertemuan resmi dan dokumen kerja sama.
Hubungan yang kuat juga tumbuh dari saling memahami budaya dan bahasa.
Ketika seorang diplomat Laos berdiri di hadapan publik Indonesia lalu memilih menyapa dengan bahasa Indonesia, pesannya terasa sederhana tetapi kuat:
Bahasa mampu mendekatkan siapa saja, bahkan dua bangsa yang berbeda.
Dan dari sebuah ucapan “Assalamualaikum”, lahirlah momen yang membuat publik tersenyum sekaligus bangga melihat bahasa Indonesia digunakan dalam panggung diplomasi internasional.