
KTT BRICS Digelar di Tengah Krisis Global
NEW DELHI – KTT BRICS 2026 digelar di New Delhi, India, pada 12–13 September ketika dunia menghadapi dua konflik besar, yakni perang di Iran dan perang Rusia-Ukraina.
Perang tersebut menjadi ujian serius bagi negara-negara anggota BRICS. Pasalnya, masing-masing negara memiliki kepentingan politik, keamanan, dan ekonomi yang tidak selalu sama.
Perdana Menteri India Narendra Modi menjadi tuan rumah dan menyambut Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, serta para pemimpin anggota BRICS lainnya.
Situasi tersebut membuat pertemuan kali ini jauh lebih penting dibandingkan sekadar forum ekonomi.
BRICS Ingin Punya Pengaruh Lebih Besar
BRICS telah berkembang menjadi kelompok yang jauh lebih besar sejak pertama kali dibentuk.
Reuters mencatat BRICS kini memiliki 11 anggota, setelah ekspansi yang memasukkan Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Arab Saudi juga telah menerima undangan, tetapi belum secara resmi menerima keanggotaan.
Gabungan negara anggota BRICS mewakili lebih dari 40 persen populasi dunia dan hampir seperempat ekonomi global.
Karena itu, kelompok tersebut ingin memiliki suara lebih besar dalam tata kelola internasional.
Perang Iran Jadi Ujian Terberat
Salah satu masalah terbesar dalam KTT BRICS adalah konflik Iran.
Iran merupakan anggota BRICS dan kini berada di tengah perang yang melibatkan Amerika Serikat serta Israel. Kondisi tersebut membuat persoalan keamanan Timur Tengah masuk langsung ke agenda forum.
Reuters melaporkan konflik tersebut juga memperlihatkan adanya perbedaan kepentingan di antara anggota BRICS. Hubungan Iran dengan Uni Emirat Arab, misalnya, ikut terpengaruh oleh konflik.
Akibatnya, menyusun sikap bersama terhadap perang menjadi lebih sulit.
Ukraina Juga Membelah Kepentingan Anggota
Perang Rusia-Ukraina menjadi persoalan lain.
Rusia merupakan anggota inti BRICS dan menjadi salah satu aktor utama dalam perang tersebut. Sementara itu, India berusaha menjaga hubungan dengan Rusia sekaligus mempertahankan komunikasi dengan Ukraina dan negara-negara Barat.
Posisi tersebut membuat India harus memainkan diplomasi yang sangat hati-hati sebagai tuan rumah.
New Delhi tidak ingin BRICS kehilangan kekompakan, tetapi juga tidak ingin forum tersebut berubah menjadi arena konflik antaranggota.
Rusia Dorong BRICS Menantang Dominasi Barat
Presiden Vladimir Putin datang ke India dengan agenda yang cukup jelas.
Dalam pembicaraan dengan Modi, Putin mendorong BRICS menjadi aliansi ekonomi yang lebih praktis dengan fokus pada teknologi, infrastruktur, sistem pembayaran, dan investasi.
Rusia juga terus mengkritik sanksi dan pembatasan perdagangan yang diberlakukan negara-negara Barat.
Moskow melihat BRICS sebagai salah satu wadah untuk memperluas kerja sama ekonomi di luar sistem yang didominasi Amerika Serikat.
Sistem Pembayaran Jadi Perhatian
Salah satu agenda yang semakin menarik adalah upaya memperkuat sistem pembayaran lintas negara.
Reuters melaporkan India mendorong gagasan untuk menghubungkan mata uang digital bank sentral atau CBDC guna membuat pembayaran lintas negara lebih cepat dan murah.
Gagasan tersebut tidak secara otomatis berarti BRICS akan menciptakan mata uang bersama.
Namun, integrasi pembayaran digital dapat mengurangi sebagian ketergantungan terhadap sistem keuangan tradisional.
Dolar AS Tetap Jadi Isu Sensitif
BRICS sebelumnya pernah membicarakan alternatif terhadap dominasi dolar.
Reuters mencatat gagasan mengenai mata uang bersama BRICS pada akhirnya tidak berlanjut. Namun, pembahasan mengenai sistem pembayaran dan penggunaan mata uang nasional tetap hidup.
Bagi Rusia dan sebagian anggota lainnya, diversifikasi sistem pembayaran memiliki nilai strategis.
Namun, negara lain tetap berhati-hati karena hubungan mereka dengan Amerika Serikat dan Eropa masih sangat penting.
India Harus Menjaga Hubungan dengan Semua Pihak
Posisi India menjadi sangat menarik dalam KTT BRICS kali ini.
India mempertahankan hubungan pertahanan dan energi dengan Rusia. Pada saat yang sama, New Delhi juga memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat dan Eropa.
Modi karena itu harus memastikan BRICS tetap menjadi forum kerja sama, bukan blok politik yang memaksa negara anggotanya memilih satu kubu.
AP menilai posisi India sebagai jembatan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan hasil KTT.
Xi Jinping Juga Membawa Agenda Besar
Presiden China Xi Jinping hadir dalam KTT setelah melakukan perjalanan ke India untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.
Kehadirannya memiliki makna khusus karena hubungan China dan India sebelumnya sempat memburuk akibat konflik perbatasan. Namun, kedua negara kini berusaha memperbaiki komunikasi.
Di sela-sela KTT, Xi dan Modi juga dijadwalkan mengadakan pertemuan bilateral.
Perbaikan hubungan China-India dapat memperkuat stabilitas internal BRICS.
BRICS Tidak Selalu Satu Suara
Perbedaan pandangan menjadi salah satu masalah struktural BRICS.
Anggotanya memiliki sistem politik berbeda, kepentingan keamanan yang tidak sama, serta hubungan luar negeri masing-masing.
Rusia ingin BRICS menjadi kekuatan penyeimbang terhadap Barat.
China ingin memperluas pengaruh ekonomi dan diplomatik.
India lebih memilih pendekatan yang fleksibel.
Sementara itu, negara-negara Timur Tengah memiliki kepentingan langsung dalam konflik regional.
Karena itu, mencapai kesepakatan bersama tidak selalu mudah.
Bahkan Pernyataan Bersama Bisa Menjadi Masalah
Reuters mencatat perbedaan sikap di antara anggota BRICS telah menyulitkan kelompok tersebut menghasilkan pernyataan bersama dalam beberapa situasi.
Konflik Timur Tengah menjadi contoh paling jelas.
Iran memiliki posisi berhadapan dengan sejumlah pihak di kawasan, sementara negara anggota lainnya memiliki hubungan berbeda dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat.
Kondisi tersebut membuat bahasa dalam dokumen bersama harus dirancang dengan sangat hati-hati.
Energi Jadi Kepentingan Bersama
Meski berbeda secara politik, ada satu kepentingan yang menyatukan banyak anggota BRICS: energi.
Kelompok tersebut memiliki sebagian besar sumber daya energi dunia.
Karena itu, gangguan pasokan akibat konflik Iran memiliki dampak langsung bagi ekonomi anggota BRICS maupun dunia.
Harga minyak yang melonjak juga meningkatkan biaya transportasi dan industri di banyak negara.
Dengan demikian, konflik Timur Tengah tidak hanya menjadi isu keamanan, tetapi juga isu ekonomi BRICS.
Harga Minyak Ikut Menekan Ekonomi Global
Perang Iran telah mendorong harga minyak kembali naik.
Brent sempat menembus US$100 per barel, meningkatkan kekhawatiran tentang inflasi global.
Bagi negara-negara berkembang, kondisi tersebut dapat menjadi persoalan serius.
Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan biaya impor dan mengurangi ruang fiskal pemerintah.
Karena itu, stabilitas jalur perdagangan energi menjadi salah satu kepentingan utama negara-negara BRICS.
Gangguan Pelayaran Ikut Mengancam Perdagangan
Konflik di Timur Tengah juga berdampak pada jalur pelayaran.
Gangguan di kawasan strategis dapat meningkatkan biaya pengiriman dan memperpanjang waktu distribusi.
AP menilai perang dan ketegangan geopolitik menjadi tantangan besar bagi upaya BRICS memperkuat perdagangan dan investasi antaranggota.
Dengan demikian, pembahasan tentang keamanan energi tidak bisa dipisahkan dari perdagangan global.
BRICS Ingin Perkuat Perdagangan dalam Mata Uang Lokal
Salah satu tujuan BRICS adalah mengurangi ketergantungan terhadap dolar dalam sebagian transaksi antaranggota.
Penggunaan mata uang lokal menjadi salah satu opsi yang terus dibahas.
Namun, persoalannya bukan hanya teknis pembayaran.
Stabilitas mata uang, regulasi, likuiditas, dan kepercayaan antarnegara juga menjadi faktor penting.
Karena itu, implementasi sistem pembayaran alternatif tidak akan berlangsung secara instan.
Indonesia Juga Menjadi Bagian dari BRICS
Indonesia telah menjadi anggota BRICS pada 2025.
Kehadiran Indonesia menambah bobot Asia Tenggara dalam kelompok tersebut.
Bagi Indonesia, BRICS dapat menjadi ruang untuk memperluas kerja sama perdagangan, investasi, dan diplomasi ekonomi.
Namun, seperti anggota lainnya, Indonesia juga perlu menjaga hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat, Eropa, China, dan negara lain.
BRICS Ingin Jadi Suara Global South
Salah satu tema penting dalam KTT BRICS adalah memperkuat posisi Global South.
Negara-negara berkembang selama ini mengkritik struktur lembaga internasional yang dianggap masih mencerminkan keseimbangan kekuatan lama.
BRICS ingin memperbesar pengaruh negara berkembang dalam isu perdagangan, keuangan internasional, pembangunan, dan tata kelola global.
Namun, ambisi tersebut harus dibuktikan dengan kemampuan menghasilkan kebijakan bersama.
Konflik Justru Menguji Ambisi Itu
Masalahnya, semakin banyak anggota berarti semakin banyak kepentingan.
Konflik Iran memperlihatkan perbedaan keamanan.
Perang Ukraina memperlihatkan perbedaan pandangan mengenai geopolitik.
Hubungan China-India memperlihatkan adanya persaingan di dalam kelompok.
Sementara itu, tekanan ekonomi global menuntut keputusan yang lebih pragmatis.
Karena itu, masa depan BRICS sangat bergantung pada kemampuannya mengelola perbedaan.
KTT Kali Ini Lebih dari Sekadar Forum Ekonomi
Pertemuan di New Delhi kini memiliki dimensi politik yang jauh lebih besar.
Para pemimpin BRICS tidak hanya membahas perdagangan dan investasi.
Mereka juga membicarakan perang, keamanan energi, sistem pembayaran, serta perubahan tata kelola global.
Kondisi tersebut menjadikan India sebagai salah satu pusat diplomasi dunia pada akhir pekan ini.
Dunia Menunggu Hasil Pertemuan
Yang paling ditunggu adalah apakah anggota BRICS mampu menghasilkan keputusan konkret.
Apakah mereka akan mencapai kesepakatan mengenai pembayaran lintas negara?
Apakah mereka dapat menyatukan sikap terhadap konflik Iran dan Ukraina?
Dan apakah hubungan China-India yang mulai mencair akan membantu memperkuat organisasi?
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan sejauh mana BRICS mampu mewujudkan ambisinya.
Kesimpulan
KTT BRICS 2026 berlangsung di tengah perang Iran, perang Rusia-Ukraina, dan meningkatnya ketegangan geopolitik global. Situasi tersebut menguji kemampuan 11 negara anggota untuk menemukan titik temu meskipun memiliki kepentingan yang berbeda.
Rusia ingin memperkuat BRICS sebagai platform ekonomi yang lebih mandiri dari Barat. China terus memperluas pengaruhnya, sementara India berusaha menjaga keseimbangan antara Rusia, China, Amerika Serikat, dan Eropa.