
Washington kembali memperkuat kerja sama pertahanan dengan Riyadh. Amerika Serikat menyetujui potensi penjualan bom, perangkat pemandu, dan perlengkapan militer kepada Arab Saudi dengan nilai sekitar US$5 miliar atau setara Rp88 triliun.
Keputusan tersebut diumumkan Departemen Luar Negeri AS pada Jumat, 4 September 2026. Paket tersebut mencakup Joint Direct Attack Munition-Extended Range (JDAM-ER) serta berbagai peralatan pendukung. Boeing ditunjuk sebagai kontraktor utama untuk paket JDAM tersebut.
AS Setujui Penjualan Senjata Rp88 Triliun
Penjualan senjata senilai Rp88 triliun ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan pertahanan Arab Saudi.
Departemen Luar Negeri AS menyebut paket tersebut dapat membantu Riyadh menghadapi ancaman regional. Selain itu, sistem tersebut diharapkan memperkuat pertahanan wilayah Saudi.
Kerja sama ini juga bertujuan meningkatkan interoperabilitas antara militer Arab Saudi dengan pasukan AS serta mitra Amerika Serikat lainnya di kawasan Teluk.
Dengan demikian, AS setujui penjualan senjata Rp88 triliun ke Arab Saudi bukan sekadar transaksi persenjataan biasa. Paket tersebut menjadi bagian dari kerja sama pertahanan Washington dan Riyadh.
Bom Presisi JDAM Jadi Bagian Utama
Salah satu bagian penting dalam paket tersebut adalah sistem JDAM-ER.
JDAM merupakan perangkat pemandu yang dapat mengubah bom konvensional menjadi munisi berpemandu dengan presisi lebih tinggi. Varian JDAM-ER dirancang memiliki jangkauan lebih jauh dibandingkan JDAM standar.
Reuters melaporkan, nilai paket JDAM-ER yang disetujui mencapai sekitar US$5 miliar. Boeing menjadi kontraktor utama dalam potensi transaksi tersebut.
Selain paket bom dan sistem pemandu, Washington juga menyetujui kemungkinan penjualan 60 mesin AGT-1500 kepada Arab Saudi.
Nilai transaksi mesin tersebut diperkirakan mencapai US$750 juta. Honeywell menjadi kontraktor utama untuk paket mesin tersebut.
Mengapa Arab Saudi Membutuhkan Senjata Ini?
Keputusan AS setujui penjualan senjata Rp88 triliun muncul ketika situasi keamanan Timur Tengah masih sangat tegang.
Arab Saudi menghadapi ancaman serangan drone dan rudal dalam konflik regional. Ancaman tersebut antara lain berasal dari Iran dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Teheran.
Karena itu, penguatan sistem pertahanan dan persediaan munisi menjadi salah satu perhatian Riyadh.
Departemen Luar Negeri AS mengatakan transaksi tersebut akan membantu Arab Saudi menghadapi ancaman regional saat ini maupun di masa mendatang.
Transaksi Belum Sepenuhnya Final
Meski AS sudah memberikan persetujuan awal, penjualan ini belum otomatis berarti seluruh senjata langsung dikirim ke Arab Saudi.
Departemen Luar Negeri AS telah menyampaikan notifikasi kepada Kongres. Proses tersebut memberikan kesempatan bagi anggota parlemen AS untuk meninjau potensi transaksi sebelum proses selanjutnya berjalan.
Karena itu, istilah yang lebih tepat adalah potensi penjualan. Nilai dan jumlah akhir juga masih dapat berubah selama proses negosiasi.
Hal ini penting agar kabar penjualan senjata AS ke Arab Saudi tidak disalahartikan sebagai pengiriman senjata senilai Rp88 triliun yang sudah selesai.
AS Juga Setujui Penjualan untuk Oman dan Irak
Pada waktu yang sama, Washington mengumumkan sejumlah potensi transaksi pertahanan lainnya di Timur Tengah.
Oman mendapat persetujuan untuk kemungkinan pembelian layanan pemeliharaan pesawat tempur F-16 dengan nilai sekitar US$188 juta.
Sementara itu, Irak mendapat persetujuan untuk kemungkinan pembelian helikopter Bell 412EPX dengan nilai sekitar US$150 juta.
Jika seluruh paket tersebut dihitung, nilai berbagai potensi penjualan peralatan militer AS kepada Arab Saudi, Oman, dan Irak mencapai sekitar US$6,1 miliar.
Hubungan AS dan Arab Saudi Makin Strategis
Arab Saudi merupakan salah satu mitra penting Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Washington menyatakan penjualan tersebut mendukung kepentingan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS. Tujuannya antara lain memperkuat keamanan Arab Saudi sebagai sekutu utama non-NATO.
Bagi Riyadh, tambahan bom berpemandu dan peralatan militer dapat membantu meningkatkan kemampuan pertahanan menghadapi ancaman udara.
Sementara bagi Washington, kerja sama tersebut memperkuat hubungan pertahanan dengan salah satu negara penting di Timur Tengah.
Ketegangan Timur Tengah Jadi Sorotan
Penjualan senjata tersebut berlangsung ketika konflik dan ketegangan di Timur Tengah masih tinggi.
Serangan rudal dan drone membuat negara-negara Teluk semakin memperhatikan kemampuan pertahanan udara. Situasi tersebut juga mendorong kebutuhan terhadap sistem pencegat, persenjataan presisi, dan dukungan logistik.
Dalam konteks itu, AS setujui penjualan senjata Rp88 triliun ke Arab Saudi menjadi perkembangan penting dalam hubungan pertahanan kedua negara.
Namun, transaksi tersebut tetap harus melewati tahapan berikutnya sebelum seluruh proses pembelian dan pengiriman dapat dilakukan.
Kesimpulan
AS setujui penjualan senjata Rp88 triliun ke Arab Saudi, terutama berupa bom, perangkat pemandu JDAM, dan peralatan pendukung.
Nilai US$5 miliar tersebut merupakan estimasi potensi transaksi. Prosesnya belum sepenuhnya final karena masih harus melewati mekanisme Kongres AS.
Di tengah meningkatnya ketegangan keamanan Timur Tengah, paket persenjataan tersebut menunjukkan semakin pentingnya kerja sama pertahanan antara Washington dan Riyadh.