
ANKARA — Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan Turki terbuka untuk memperdalam hubungan dengan Shanghai Cooperation Organisation (SCO) dan mempertimbangkan kemungkinan menjadi anggota penuh. Pernyataan itu disampaikan setelah Erdogan menghadiri pertemuan SCO di Bishkek, Kirgizstan. Saat ini, Turki berstatus mitra dialog SCO.
Erdogan menegaskan bahwa rencana tersebut tidak berarti Turki meninggalkan NATO atau hubungan strategisnya dengan negara-negara Barat. Menurutnya, Ankara ingin menjalankan kebijakan luar negeri yang lebih fleksibel dengan memperluas kerja sama ke berbagai arah.
Erdogan Pertimbangkan Keanggotaan Penuh SCO
Turki mempertimbangkan keanggotaan penuh SCO setelah selama ini berstatus sebagai mitra dialog.
Dalam perjalanan pulang dari KTT SCO di Bishkek, Erdogan mengatakan Ankara akan mempertimbangkan peningkatan hubungan tersebut. Pernyataan itu menunjukkan minat Turki untuk memainkan peran lebih besar dalam organisasi yang dipimpin China dan Rusia.
Namun, Erdogan belum mengumumkan keputusan resmi bahwa Turki akan mengajukan permohonan keanggotaan penuh.
Erdogan Tegaskan NATO Tetap Penting
Pernyataan Erdogan langsung memunculkan pertanyaan mengenai masa depan hubungan Turki dengan NATO.
Erdogan menjelaskan bahwa perspektif keanggotaan SCO tidak berarti Turki membelakangi Barat. Anadolu Agency juga mengutip Erdogan yang mengatakan Ankara ingin meningkatkan bobot globalnya melalui visi kebijakan luar negeri yang lebih luas.
Dengan demikian, pemerintah Turki berusaha menempatkan hubungan dengan SCO sebagai tambahan, bukan pengganti, hubungan dengan NATO.
Turki Sudah Lama Dekat dengan SCO
Hubungan Turki dengan SCO bukan sesuatu yang baru.
Ankara telah menjadi mitra dialog organisasi tersebut. Status ini memberikan ruang bagi Turki untuk mengikuti sejumlah kegiatan dan pembicaraan tanpa menjadi anggota penuh.
Langkah Erdogan sekarang dapat dilihat sebagai upaya untuk meningkatkan tingkat keterlibatan Turki dalam forum Eurasia tersebut.
China dan Rusia Pimpin SCO
SCO dibentuk sebagai organisasi kerja sama regional yang mencakup berbagai isu, termasuk keamanan, ekonomi, perdagangan, dan hubungan antarnegara.
China dan Rusia merupakan dua kekuatan utama dalam organisasi tersebut. Anggotanya juga mencakup sejumlah negara besar Eurasia.
Karena itu, keanggotaan penuh Turki akan memiliki nilai geopolitik yang cukup besar.
Erdogan Hadiri KTT di Bishkek
Erdogan menghadiri KTT SCO yang berlangsung di Bishkek, Kirgizstan, pada awal September 2026.
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah pemimpin besar, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri India Narendra Modi, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Kehadiran Erdogan memperlihatkan bahwa Turki semakin aktif dalam forum yang mempertemukan kekuatan Eurasia.
Hubungan Erdogan dan Putin Juga Menghangat
Dalam rangkaian pertemuan di Bishkek, Erdogan bertemu dengan Putin.
Menurut Anadolu Agency, Erdogan menggambarkan hubungan Turki-Rusia berada pada tingkat yang sangat maju. Keduanya membahas sejumlah isu bilateral, termasuk kerja sama energi dan proyek pembangkit listrik tenaga nuklir Akkuyu.
Kedekatan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat minat Turki terhadap SCO semakin diperhatikan.
Turki Tetap Negara NATO
Meski memperluas hubungan dengan SCO, Turki tetap menjadi anggota NATO.
Posisi tersebut penting karena Turki memiliki lokasi strategis yang menghubungkan Eropa, Asia, Laut Hitam, dan Timur Tengah.
Karena itu, Ankara memiliki kepentingan langsung terhadap kerja sama keamanan dengan negara-negara Barat sekaligus hubungan ekonomi dengan negara-negara Eurasia.
Kebijakan Luar Negeri Turki Makin Fleksibel
Erdogan tampaknya ingin mempertahankan ruang gerak yang luas dalam diplomasi.
Turki selama ini menjalankan hubungan dengan Amerika Serikat dan Eropa, tetapi juga memiliki hubungan dengan Rusia, China, Iran, dan negara-negara Asia Tengah.
Pendekatan tersebut memungkinkan Ankara mengejar kepentingan ekonomi dan keamanan dari berbagai pihak.
SCO Bisa Buka Peluang Ekonomi
Keanggotaan penuh SCO berpotensi memberikan Turki akses lebih besar terhadap kerja sama ekonomi di Eurasia.
Turki dapat memperluas perdagangan, investasi, transportasi, energi, dan konektivitas dengan anggota SCO.
Posisi geografis Turki juga dapat membuat Ankara berperan sebagai penghubung antara pasar Eropa dan Asia.
Jalur Perdagangan Jadi Pertimbangan
Turki memiliki ambisi menjadi salah satu pusat transportasi antara Asia dan Eropa.
Kerja sama dengan negara-negara SCO dapat mendukung konektivitas melalui jalur darat, kereta api, pelabuhan, dan koridor perdagangan.
Hubungan yang lebih erat dengan Asia Tengah juga dapat memperkuat peran Turki dalam jalur perdagangan Eurasia.
Energi Jadi Kepentingan Utama
Kerja sama energi kemungkinan menjadi salah satu alasan Turki memperkuat hubungan dengan negara-negara Eurasia.
Turki merupakan negara yang membutuhkan pasokan energi besar dan selama ini berusaha menjadi pusat transit energi bagi kawasan.
Hubungan dengan Rusia, negara-negara Asia Tengah, dan Timur Tengah memberikan Ankara pilihan sumber energi yang lebih beragam.
Rusia Punya Peran Besar
Rusia merupakan salah satu mitra ekonomi dan energi penting bagi Turki.
Kedua negara memiliki kepentingan bersama dalam perdagangan, energi, pariwisata, dan sejumlah proyek besar.
Namun, hubungan tersebut juga kompleks karena Turki dan Rusia tidak selalu memiliki pandangan yang sama mengenai konflik regional.
Turki Juga Dekat dengan Ukraina
Di sisi lain, Turki mempertahankan hubungan dengan Ukraina.
Ankara sebelumnya berusaha memainkan peran diplomatik dalam perang Rusia-Ukraina dan mendorong penyelesaian melalui negosiasi.
Posisi Turki yang dekat dengan kedua pihak menunjukkan bagaimana Ankara berusaha mempertahankan jalur diplomasi yang independen.
Erdogan Tidak Ingin Memilih Satu Blok
Pernyataan Erdogan mengenai SCO menunjukkan Ankara tidak ingin membatasi kebijakan luar negeri hanya pada satu kelompok.
Turki ingin tetap menjadi bagian dari NATO sekaligus memperluas kerja sama dengan organisasi Eurasia.
Pendekatan semacam ini sering disebut sebagai kebijakan luar negeri multiarah.
Barat Bisa Mengawasi Langkah Ankara
Meski Erdogan menegaskan NATO tetap penting, rencana memperdalam hubungan dengan SCO tentu akan menjadi perhatian Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.
SCO dipandang sebagai salah satu forum penting yang dipimpin China dan Rusia.
Jika Turki benar-benar mengajukan keanggotaan penuh, negara-negara Barat kemungkinan akan memperhatikan dampaknya terhadap kerja sama pertahanan dan keamanan.
Tidak Otomatis Keluar dari NATO
Keanggotaan di SCO dan NATO tidak secara otomatis saling meniadakan.
Namun, jika Turki meningkatkan integrasi politik dan keamanan dengan SCO, akan muncul pertanyaan mengenai bagaimana Ankara mengelola komitmen dan kepentingan yang berbeda.
Erdogan sudah berupaya mengantisipasi pertanyaan tersebut dengan menegaskan bahwa hubungan dengan Barat tetap dipertahankan.
Turki Ingin Naikkan Pengaruh Global
Erdogan menyebut Ankara ingin meningkatkan bobot global melalui visi “360-degree”.
Artinya, Turki ingin menjalin hubungan lebih luas dengan berbagai kawasan tanpa sepenuhnya bergantung pada satu blok.
Strategi tersebut sejalan dengan posisi geografis Turki yang berada di persimpangan beberapa wilayah penting.
Asia Tengah Semakin Penting
SCO juga memberi Turki kesempatan memperkuat hubungan dengan Asia Tengah.
Turki memiliki hubungan budaya dan sejarah dengan sejumlah negara Turkik di kawasan tersebut.
Keterlibatan lebih jauh dalam SCO dapat memberikan Ankara platform tambahan untuk memperluas pengaruh ekonomi dan diplomasi.
Iran Juga Ada di Dalam SCO
Iran merupakan salah satu anggota penting SCO.
Kehadiran Iran di organisasi tersebut menjadi relevan bagi Turki karena Ankara memiliki kepentingan langsung di Timur Tengah dan hubungan perdagangan dengan Teheran.
Jika Turki memperdalam keterlibatan dalam SCO, komunikasi dengan Iran juga bisa semakin terstruktur.
India Menjadi Mitra Potensial
India juga menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dalam SCO.
Bagi Turki, peningkatan hubungan dengan India dapat membuka peluang perdagangan dan investasi baru.
Pertumbuhan ekonomi India membuat negara tersebut semakin penting dalam strategi perdagangan global Ankara.
Turki Tetap Membutuhkan Eropa
Meskipun semakin aktif di Eurasia, Turki tetap mempunyai hubungan ekonomi yang kuat dengan Eropa.
Uni Eropa merupakan salah satu mitra dagang utama Turki dan memiliki hubungan ekonomi yang sangat dalam.
Karena itu, Ankara memiliki alasan kuat untuk menjaga hubungan dengan Brussels.
Ekonomi Menjadi Faktor Penentu
Pertimbangan geopolitik bukan satu-satunya alasan Erdogan melihat peluang keanggotaan SCO.
Ekonomi, investasi, energi, dan perdagangan juga dapat menjadi faktor penting.
Turki sedang mencari peluang baru di tengah perubahan rantai pasok dan semakin kuatnya perdagangan antara Asia dan Eropa.
SCO Terus Memperluas Pengaruh
KTT SCO di Bishkek berlangsung ketika organisasi tersebut berusaha memperkuat kerja sama regional.
Pertemuan ini juga dihadiri pemimpin dari sejumlah negara besar Eurasia.
Kehadiran Turki menjadi menarik karena Ankara adalah anggota NATO sekaligus negara yang semakin aktif mendekati organisasi yang dipimpin China dan Rusia.
Apa Dampaknya bagi NATO?
Untuk NATO, langkah Turki dapat menjadi tantangan politik jika Ankara benar-benar meningkatkan keterikatan dengan SCO.
Namun, belum ada keputusan yang menunjukkan Turki akan mengurangi komitmen terhadap NATO.
Karena itu, terlalu dini menyimpulkan bahwa Turki sedang berpindah blok.
Apa Dampaknya bagi China?
Bagi China, keterlibatan Turki yang lebih dalam dapat memperkuat hubungan Eurasia.
Turki memiliki posisi geografis yang sangat strategis untuk perdagangan antara China, Asia Tengah, Timur Tengah, dan Eropa.
Kehadiran Ankara dalam SCO dapat memberikan keuntungan ekonomi dan diplomatik bagi Beijing.
Apa Dampaknya bagi Rusia?
Rusia juga dapat memperoleh manfaat dari hubungan yang lebih dekat dengan Turki.
Moskow dan Ankara telah membangun hubungan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, hubungan keduanya tetap pragmatis dan dapat berbeda pada isu seperti Suriah, Kaukasus, serta Ukraina.
Erdogan Hadapi Dilema Strategis
Turki harus menjaga keseimbangan yang tidak mudah.
Terlalu dekat dengan Rusia dan China dapat membuat hubungan dengan Barat semakin rumit. Sebaliknya, terlalu bergantung pada Barat dapat membatasi ruang gerak Ankara di Eurasia.
Erdogan tampaknya memilih jalan tengah.
SCO Bukan Aliansi Militer seperti NATO
Hal ini penting untuk dipahami.
SCO merupakan organisasi kerja sama regional dengan agenda yang lebih luas, sedangkan NATO merupakan aliansi pertahanan kolektif.
Karena karakter kedua organisasi berbeda, keikutsertaan Turki dalam SCO tidak otomatis berarti perubahan komitmen militer terhadap NATO.
Keputusan Resmi Belum Ada
Sampai saat ini, Turki belum resmi menjadi anggota penuh SCO.
Pernyataan Erdogan masih berupa keterbukaan untuk mempertimbangkan peningkatan status keanggotaan.
Karena itu, perkembangan berikutnya akan bergantung pada keputusan pemerintah Turki dan proses organisasi SCO.
Jalan Menuju Keanggotaan Masih Panjang
Jika Ankara benar-benar mengajukan keanggotaan penuh, proses diplomatik dan politik akan membutuhkan pembicaraan dengan anggota SCO lainnya.
Turki juga perlu mempertimbangkan konsekuensi ekonomi, keamanan, dan hubungan dengan negara Barat.
Karena itu, pernyataan Erdogan belum berarti keanggotaan langsung terjadi.
Kebijakan “360 Derajat”
Pendekatan Erdogan menunjukkan keinginan Turki untuk memiliki hubungan dengan sebanyak mungkin kekuatan global.
Strategi tersebut memberikan ruang bagi Ankara untuk memperoleh manfaat dari berbagai mitra.
Namun, semakin banyak hubungan strategis yang dibangun, semakin rumit pula pengelolaannya.
Dunia Sedang Mengalami Perubahan Blok
Keputusan Turki muncul ketika tatanan geopolitik global sedang mengalami perubahan.
Persaingan Amerika Serikat-China, perang Rusia-Ukraina, konflik Timur Tengah, dan perubahan jalur perdagangan membuat banyak negara meninjau kembali strategi luar negeri mereka.
Turki menjadi salah satu negara yang mencoba mengambil posisi fleksibel di tengah perubahan tersebut.
Kesimpulan
Presiden Recep Tayyip Erdogan membuka peluang Turki menjadi anggota penuh Shanghai Cooperation Organisation (SCO). Saat ini, Turki masih berstatus mitra dialog SCO, tetapi Ankara ingin mempertimbangkan hubungan yang lebih dalam dengan organisasi yang dipimpin China dan Rusia.
Yang menarik, Erdogan secara tegas mengatakan langkah tersebut tidak berarti Turki meninggalkan NATO atau membelakangi Barat. Ankara ingin memperluas pengaruh global melalui kebijakan luar negeri yang lebih fleksibel dan menjalin kerja sama dengan berbagai kekuatan.
Peluang keanggotaan SCO juga memiliki dimensi ekonomi. Turki bisa mendapatkan kesempatan memperluas perdagangan, investasi, konektivitas, dan kerja sama energi dengan negara-negara Eurasia.
Namun, Turki belum resmi mengajukan keanggotaan penuh. Untuk saat ini, pernyataan Erdogan lebih tepat dipahami sebagai sinyal bahwa Ankara sedang mempertimbangkan langkah strategis baru.