
WASHINGTON – Amerika Serikat mengambil langkah baru dalam pengembangan energi nuklir untuk kebutuhan pertahanan. Angkatan Darat AS memilih lima pangkalan militer sebagai lokasi awal pembangunan dan pengoperasian microreactor nuklir melalui program Janus.
Program tersebut mendapat dukungan pendanaan hingga US$2,2 miliar atau sekitar Rp35 triliun jika menggunakan kurs Rp16.000 per dolar AS. Dana itu akan diberikan kepada lima perusahaan terpilih berdasarkan pencapaian tahapan proyek.
Tujuan utama program ini adalah menyediakan sumber listrik yang lebih tangguh bagi pangkalan militer, terutama jika jaringan listrik komersial mengalami gangguan.
Lima Pangkalan Jadi Lokasi Awal
Lima pangkalan yang dipilih berada di sejumlah negara bagian Amerika Serikat.
Pangkalan tersebut adalah Fort Bragg di North Carolina, Fort Campbell di Kentucky, Fort Hood di Texas, Fort Benning di Georgia, dan Fort Drum di New York.
Masing-masing lokasi akan ditangani perusahaan berbeda.
Angkatan Darat AS memilih Antares Nuclear untuk Fort Bragg, BWXT Advanced Technologies untuk Fort Campbell, General Atomics Electromagnetic Systems untuk Fort Hood, Radiant Industries untuk Fort Benning, serta Westinghouse Government Services untuk Fort Drum.
Bukan Reaktor Nuklir Konvensional
Microreactor berbeda dengan pembangkit listrik tenaga nuklir berukuran besar.
Teknologi tersebut dirancang lebih kecil, modular, dan dapat menghasilkan listrik dalam kapasitas yang lebih terbatas. Menurut Angkatan Darat AS, kapasitas setiap desain berada di kisaran 1 hingga 20 megawatt, tergantung teknologi perusahaan yang mengembangkannya.
Karena ukurannya lebih kecil, microreactor diproyeksikan dapat digunakan untuk kebutuhan listrik di fasilitas yang membutuhkan pasokan energi stabil.
Tetap Terhubung ke Jaringan Listrik
Pangkalan yang menjadi lokasi proyek tidak akan sepenuhnya meninggalkan jaringan listrik komersial.
Pejabat Angkatan Darat AS menjelaskan bahwa microreactor tidak dirancang untuk memasok seluruh kebutuhan listrik pangkalan. Sistem tersebut lebih diarahkan untuk menyediakan daya cadangan bagi infrastruktur penting ketika jaringan utama mengalami gangguan.
Dengan pola tersebut, militer berharap operasional penting tetap berjalan meskipun pasokan listrik eksternal terganggu.
Target Reaktor Pertama Beroperasi 2028
Program Janus memiliki target yang cukup agresif.
Angkatan Darat AS menargetkan setidaknya satu microreactor mulai beroperasi di pangkalan militer pada 30 September 2028.
Sementara itu, program secara keseluruhan diarahkan untuk menghasilkan lebih dari 20 microreactor di berbagai instalasi Departemen Pertahanan AS pada tahap berikutnya.
Mengapa Militer AS Membutuhkan Energi Nuklir?
Salah satu alasan utama proyek ini adalah ketahanan energi.
Militer AS menilai jaringan listrik komersial dapat menjadi titik rentan ketika terjadi konflik atau gangguan besar. Jika pasokan listrik terputus, fasilitas militer yang membutuhkan energi dalam jumlah besar tetap harus beroperasi.
Microreactor diharapkan dapat menyediakan sumber listrik lokal tanpa terlalu bergantung pada jaringan eksternal.
Bisa Beroperasi Lama Tanpa Isi Bahan Bakar
Salah satu keunggulan yang diklaim dari microreactor adalah kemampuan beroperasi dalam waktu lama tanpa pengisian bahan bakar secara rutin.
Angkatan Darat AS dan industri menyebut teknologi ini dapat menyediakan pasokan energi yang stabil selama bertahun-tahun sebelum membutuhkan pengisian bahan bakar.
Karakteristik tersebut dianggap penting untuk pangkalan militer yang lokasinya jauh atau memiliki kebutuhan energi tinggi.
Program Janus Jadi Penggerak Teknologi Nuklir
Proyek lima pangkalan tersebut merupakan bagian dari Janus Program.
Program ini dirancang untuk mendorong teknologi reaktor generasi baru keluar dari tahap eksperimen dan menuju penggunaan yang lebih luas.
Angkatan Darat AS bekerja sama dengan Defense Innovation Unit (DIU) dalam proses pemilihan perusahaan dan pengembangan teknologi.
Lima Perusahaan Bersaing Mengembangkan Teknologi
Kelima perusahaan yang dipilih tidak hanya membangun reaktor.
Mereka juga bertanggung jawab untuk memiliki dan mengoperasikan fasilitas tersebut berdasarkan kontrak yang diberikan pemerintah AS. Pembayaran akan dikaitkan dengan pencapaian tahapan teknis proyek.
Model tersebut memungkinkan pemerintah AS mengurangi risiko jika salah satu proyek mengalami kegagalan dalam tahap pengembangan.
Pemerintah AS Siapkan Hingga US$2,2 Miliar
Nilai proyek menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian.
Angkatan Darat AS menyiapkan hingga US$2,2 miliar untuk lima perusahaan selama beberapa tahun ke depan. Dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan, membangun, dan mengoperasikan microreactor.
Selain pendanaan pemerintah, AS juga berharap proyek tersebut dapat menarik investasi swasta tambahan ke industri nuklir.
Keamanan Jadi Perhatian
Penggunaan reaktor nuklir di pangkalan militer tentu menimbulkan pertanyaan mengenai keselamatan.
Pejabat Angkatan Darat AS mengatakan desain reaktor generasi baru memiliki fitur keselamatan yang memungkinkan sistem berhenti secara aman ketika terjadi masalah. Pemerintah juga menyatakan limbah nuklir tidak akan disimpan dalam jangka panjang di pangkalan tersebut.
Namun, sejumlah kritikus mempertanyakan biaya, risiko, dan pengawasan terhadap teknologi tersebut.
Reaktor Akan Diawasi Angkatan Darat
Ada perbedaan penting dalam sistem pengawasan proyek ini.
Microreactor untuk pangkalan militer akan berada dalam kerangka perizinan Angkatan Darat AS, bukan sistem perizinan yang digunakan Nuclear Regulatory Commission (NRC) untuk reaktor komersial.
Meski demikian, Angkatan Darat mengatakan pihaknya berupaya menyelaraskan proses regulasi agar desain yang dikembangkan dapat memenuhi standar yang diperlukan apabila nantinya digunakan secara lebih luas.
Tidak Menggunakan Uranium Senjata
Pejabat program juga menyatakan microreactor tersebut tidak akan menggunakan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi atau uranium berkategori weapons-grade.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari penjelasan pemerintah mengenai aspek keamanan proyek.
Selain itu, lokasi reaktor berada di dalam instalasi militer yang sudah memiliki sistem keamanan tersendiri.
Mengurangi Ketergantungan pada Bahan Bakar Fosil
Militer AS selama ini menggunakan generator berbahan bakar diesel sebagai salah satu sumber cadangan untuk infrastruktur penting.
Namun, dalam kondisi konflik, distribusi bahan bakar fosil dapat menghadapi berbagai risiko.
Karena itu, pemerintah AS melihat energi nuklir sebagai salah satu pilihan untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok bahan bakar.
Proyek Bisa Meluas ke Pangkalan Lain
Lima pangkalan tersebut merupakan tahap awal.
Angkatan Darat AS menyatakan program dapat diperluas ke instalasi lain, termasuk pangkalan milik cabang militer AS lainnya. Target jangka panjangnya adalah lebih dari 20 microreactor di instalasi Departemen Pertahanan.
Artinya, proyek yang dimulai di lima pangkalan ini berpotensi menjadi model bagi penggunaan energi nuklir di lingkungan militer AS.
Fort Hood Termasuk Lokasi Terpilih
Fort Hood di Texas menjadi salah satu lokasi yang telah ditetapkan.
Perusahaan General Atomics Electromagnetic Systems akan mengembangkan microreactor di pangkalan tersebut.
Lokasi ini menjadi salah satu contoh bagaimana Angkatan Darat AS menguji teknologi energi nuklir di pangkalan aktif.
Apa Dampaknya bagi Pertahanan AS?
Jika berhasil, microreactor dapat memberikan keuntungan berupa pasokan energi yang lebih mandiri.
Fasilitas komando, komunikasi, sistem komputasi, dan infrastruktur penting lainnya dapat memiliki sumber listrik yang tetap tersedia ketika jaringan utama mengalami gangguan.
Namun, keberhasilan program masih bergantung pada kemampuan perusahaan menyelesaikan desain, memenuhi standar keselamatan, memperoleh izin, dan membangun reaktor sesuai target waktu.
Fakta Penting Proyek Microreactor AS
Berikut fakta utama yang telah dikonfirmasi:
- AS memilih lima pangkalan militer untuk tahap awal.
- Lokasinya berada di North Carolina, Kentucky, Texas, Georgia, dan New York.
- Nilai pendanaan mencapai hingga US$2,2 miliar.
- Setiap microreactor diperkirakan menghasilkan sekitar 1–20 megawatt.
- Reaktor pertama ditargetkan beroperasi paling lambat 30 September 2028.
- Program jangka panjang menargetkan lebih dari 20 microreactor di instalasi Departemen Pertahanan AS.
- Pangkalan tetap terhubung dengan jaringan listrik komersial.
- Microreactor ditujukan terutama untuk menjaga pasokan listrik bagi infrastruktur kritis ketika jaringan utama terganggu.
AS Mulai Bawa Energi Nuklir ke Pangkalan Militer
Rencana pembangunan microreactor di lima pangkalan menunjukkan perubahan besar dalam strategi energi militer AS.
Angkatan Darat AS telah memilih lima pangkalan untuk menjadi lokasi awal microreactor nuklir melalui Program Janus dengan nilai pendanaan hingga US$2,2 miliar. Teknologi ini ditujukan untuk menyediakan listrik yang lebih tangguh bagi fasilitas militer ketika jaringan listrik komersial mengalami gangguan.
Meski demikian, proyek ini masih berada dalam tahap pengembangan. Target berikutnya adalah memastikan setidaknya satu microreactor dapat beroperasi pada 2028, sebelum program diperluas ke lebih banyak instalasi militer.