
JAKARTA – Harga minyak mentah dunia kembali menguat dan mencatat kenaikan selama empat hari berturut-turut pada Rabu, 19 Agustus 2026. Pergerakan ini terjadi ketika pasar energi kembali dibayangi ketidakpastian mengenai lalu lintas kapal dan pasokan minyak melalui Selat Hormuz di tengah ketegangan Amerika Serikat dan Iran.
Pada awal perdagangan, harga Brent naik sekitar 26 sen atau 0,29% menjadi US$91,28 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) meningkat 37 sen menjadi sekitar US$85,31 per barel. Kedua kontrak tersebut sebelumnya telah ditutup pada level tertinggi sejak 24 Juli.
Kenaikan tersebut membuat pasar kembali bertanya-tanya: apakah harga minyak sedang menuju level US$100 per barel?
Selat Hormuz Jadi Pusat Perhatian
Salah satu faktor utama di balik kenaikan harga adalah ketidakpastian mengenai kondisi Selat Hormuz, jalur strategis yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia.
Pasar menerima pesan yang berbeda dari Washington dan Teheran mengenai apakah kapal dapat melintas dengan aman. Situasi tersebut membuat perusahaan pelayaran dan pelaku pasar harus memperhitungkan risiko gangguan pasokan.
Reuters melaporkan bahwa sekitar 20% perdagangan minyak dan gas global melewati kawasan Selat Hormuz. Karena itu, gangguan berkepanjangan di jalur tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap pasar energi dunia.
Risiko Bukan Sekadar Harga Minyak
Jika kapal tanker mengurangi aktivitas di kawasan tersebut, masalahnya tidak berhenti pada harga minyak mentah.
Biaya pengiriman dapat meningkat, waktu perjalanan menjadi lebih panjang, dan perusahaan energi harus mencari jalur alternatif.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menciptakan tekanan tambahan terhadap harga bahan bakar dan biaya logistik global.
Brent Kembali Bertahan di Atas US$90
Level US$90 per barel menjadi perhatian penting bagi pasar.
Sehari sebelumnya, Brent ditutup pada sekitar US$91,02 per barel, naik 0,17%. Sementara WTI ditutup pada sekitar US$84,94 per barel, naik 0,52%. Keduanya menjadi level penutupan tertinggi sejak 24 Juli.
Pada perdagangan berikutnya, kenaikan kembali berlanjut.
Reuters kemudian melaporkan Brent mencapai sekitar US$91,47 per barel, sedangkan WTI berada di sekitar US$85,39 per barel, yang merupakan level tertinggi dalam sekitar tiga pekan.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa risiko geopolitik mulai kembali mendapatkan perhatian besar dari investor minyak.
Harapan Perdamaian AS-Iran Menjadi Penentu
Pasar energi juga mencermati perkembangan hubungan Washington dan Teheran.
Harapan terhadap penyelesaian konflik yang cepat mulai meredup. Kondisi tersebut membuat investor meningkatkan premi risiko pada harga minyak karena khawatir gangguan pasokan berlangsung lebih lama.
Sederhananya:
Semakin lama ketidakpastian berlangsung, semakin besar risiko yang harus dibayar dalam harga minyak.
Sebaliknya, jika tercapai kesepakatan yang memungkinkan lalu lintas kapal kembali normal, harga minyak berpotensi mengalami tekanan turun.
Ada Faktor yang Bisa Menahan Kenaikan
Meski harga minyak naik empat hari berturut-turut, bukan berarti seluruh faktor pasar mendukung kenaikan.
Permintaan minyak global tetap menjadi perhatian.
Jika pertumbuhan ekonomi dunia melambat, konsumsi energi dapat ikut melemah. Kondisi tersebut bisa menjadi penahan alami bagi harga minyak meskipun risiko geopolitik masih tinggi.
Persediaan minyak juga menjadi faktor penting yang terus dipantau investor.
Reuters melaporkan bahwa data awal menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat menurun, sementara stok bensin meningkat. Data resmi pemerintah AS masih menjadi perhatian pasar untuk melihat kondisi pasokan dan permintaan dengan lebih jelas.
Irak Siapkan Jalur Ekspor Alternatif
Ketidakpastian di Hormuz juga mendorong negara produsen minyak memikirkan alternatif.
Irak dilaporkan menyiapkan mekanisme ekspor baru selama tiga bulan mulai September sebagai upaya melakukan diversifikasi jalur pengiriman minyak.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa negara-negara produsen mulai mengantisipasi kemungkinan gangguan yang berlangsung lebih panjang.
Namun, jalur alternatif tetap memiliki keterbatasan kapasitas sehingga belum tentu dapat menggantikan peran Selat Hormuz sepenuhnya.
Mengapa Harga Minyak Penting bagi Indonesia?
Pergerakan minyak dunia juga memiliki dampak terhadap Indonesia.
Indonesia masih membutuhkan impor minyak dan produk BBM tertentu. Karena itu, kenaikan harga minyak global dapat meningkatkan biaya pengadaan energi.
Jika kenaikan berlangsung lama, dampaknya berpotensi terasa pada:
- biaya transportasi;
- harga logistik;
- biaya produksi industri;
- inflasi;
- neraca perdagangan;
- hingga beban fiskal terkait energi.
Ditambah dengan pergerakan nilai tukar rupiah, harga minyak global menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pemerintah dan pelaku ekonomi.
Harga Minyak Bisa Menuju US$100?
Pertanyaan mengenai kemungkinan Brent kembali menuju US$100 per barel mulai muncul di pasar.
Reuters mencatat bahwa sejumlah analis melihat premi risiko geopolitik semakin masuk ke harga minyak dan Brent dapat bergerak lebih tinggi apabila ketidakpastian di Selat Hormuz terus berlanjut.
Namun, US$100 bukanlah angka yang otomatis akan tercapai.
Ada sejumlah faktor yang dapat mengubah arah pasar secara cepat, seperti:
- perkembangan konflik AS-Iran;
- kondisi Selat Hormuz;
- aktivitas kapal tanker;
- persediaan minyak Amerika Serikat;
- keputusan negara-negara produsen;
- permintaan energi global;
- dan perkembangan ekonomi dunia.
Satu perkembangan diplomatik positif dapat membuat harga minyak turun dengan cepat.
Sebaliknya, eskalasi baru di Timur Tengah dapat kembali mendorong harga lebih tinggi.
Empat Hari Berturut-turut Menjadi Sinyal Pasar
Kenaikan empat hari berturut-turut menunjukkan bahwa investor sedang memberikan perhatian besar terhadap risiko pasokan.
Namun, reli ini juga harus dilihat secara hati-hati.
Pasar minyak saat ini sangat sensitif terhadap berita geopolitik. Perubahan informasi mengenai keamanan pelayaran di Hormuz dapat langsung memicu pergerakan harga yang signifikan.
Minyak kini bukan hanya diperdagangkan berdasarkan hukum permintaan dan penawaran, tetapi juga berdasarkan tingkat risiko geopolitik.
Harga Minyak Naik, Dunia Menunggu Hormuz
Kenaikan harga minyak dunia selama empat hari berturut-turut menjadi salah satu perkembangan penting pasar energi pada 19 Agustus 2026.
Brent berada di kisaran US$91 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$85 per barel, dengan kedua harga telah mencapai level tertinggi dalam beberapa pekan.
Pertanyaan terbesar sekarang bukan sekadar apakah harga minyak akan naik pada perdagangan berikutnya.
Yang jauh lebih menentukan adalah berapa lama ketidakpastian di Selat Hormuz akan berlangsung.
Jika jalur pelayaran kembali normal dan ketegangan geopolitik mereda, premi risiko minyak dapat berkurang.
Namun, apabila gangguan semakin parah, dunia bisa menghadapi energi yang lebih mahal—dengan dampak lanjutan terhadap inflasi, transportasi, industri, dan biaya hidup masyarakat.
Untuk sementara, Selat Hormuz menjadi salah satu kunci utama yang menentukan arah harga minyak dunia.