China Makin Kuat di BRICS! Xi Dorong AI, Ekonomi, dan Pengaruh Global

China Makin Aktif di BRICS

China di BRICS semakin menunjukkan pengaruhnya. Dalam KTT BRICS di New Delhi pada 12–13 September 2026, Presiden China Xi Jinping mendorong penguatan kerja sama ekonomi dan teknologi di antara negara-negara anggota.

Xi mengusulkan sejumlah inisiatif baru, mulai dari pengembangan kecerdasan buatan atau AI hingga peningkatan integrasi pasar dan rantai pasok. Langkah tersebut memperlihatkan ambisi Beijing untuk menjadikan BRICS sebagai platform kerja sama yang lebih praktis bagi negara-negara Global South.

Xi Dorong BRICS Lebih Terintegrasi

Dalam KTT BRICS 2026, Xi menyerukan agar negara-negara anggota memperkuat kerja sama dan menjaga stabilitas rantai industri serta pasokan.

Menurut Xi, integrasi pasar BRICS dapat membantu meningkatkan perdagangan dan investasi antarnegara anggota. China juga mengusulkan BRICS Special Economic Zone partnership serta forum perdagangan jasa BRICS yang akan digelar tahun depan.

Langkah tersebut memperkuat posisi China dalam agenda ekonomi BRICS.

China Usulkan BRICS AI Open Source Zone

Salah satu proposal paling menonjol adalah pembentukan BRICS AI Open Source Zone.

China akan memimpin inisiatif tersebut untuk meningkatkan kerja sama dalam model bahasa besar, pelatihan AI, serta pengembangan ekosistem kecerdasan buatan yang lebih terbuka.

Inisiatif ini menjadi penting karena AI kini berkembang menjadi bagian dari persaingan ekonomi dan teknologi global.

Dengan kerja sama AI, negara-negara BRICS berpeluang berbagi teknologi, sumber daya manusia, dan kemampuan riset tanpa sepenuhnya bergantung pada negara-negara maju di luar blok.

BRICS Kini Beranggotakan 11 Negara

BRICS telah berkembang jauh dari kelompok awal yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.

Kini blok tersebut memiliki 11 anggota, termasuk Iran, Indonesia, Mesir, Ethiopia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Selain itu, BRICS juga memiliki sejumlah negara mitra dari Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

Perluasan tersebut membuat BRICS memiliki jangkauan ekonomi dan geopolitik yang semakin besar.

Reuters mencatat bahwa BRICS saat ini mencakup sekitar 28% produk domestik bruto dunia.

China Akan Memimpin BRICS pada 2027

Pengaruh China diperkirakan semakin terlihat karena Beijing akan menjadi ketua BRICS pada 2027.

China juga akan menjadi tuan rumah KTT BRICS berikutnya. Reuters melaporkan bahwa Beijing telah beberapa kali menjadi tuan rumah KTT BRICS dan kini kembali memperoleh kesempatan untuk menentukan sebagian agenda kerja sama kelompok tersebut.

Momentum tersebut memberikan China ruang lebih besar untuk mendorong agenda teknologi, perdagangan, keuangan, dan pembangunan negara berkembang.

Sistem Pembayaran Lokal Jadi Sorotan

Selain AI, BRICS juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi.

Deklarasi New Delhi mendukung peningkatan sistem pembayaran lintas negara serta interoperabilitas mata uang digital bank sentral atau CBDC. Tujuannya antara lain membuat transaksi antarnegara lebih mudah dan mengurangi biaya perdagangan.

Namun, rencana tersebut masih menghadapi persoalan teknis dan politik.

Reuters mencatat bahwa India sebelumnya tidak ikut dalam platform CBDC mBridge yang berakar dari China. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa anggota BRICS masih memiliki kepentingan nasional yang berbeda.

India dan China Mulai Memperbaiki Hubungan

KTT BRICS juga menjadi panggung penting bagi hubungan India-China.

Xi Jinping bertemu dengan Perdana Menteri India Narendra Modi di sela-sela KTT. Kedua negara menyatakan keinginan untuk memperkuat hubungan bilateral, termasuk kerja sama bisnis, mobilitas masyarakat, perdagangan, dan penyelesaian persoalan perbatasan secara damai.

Pertemuan tersebut penting karena hubungan India dan China sebelumnya mengalami ketegangan akibat persoalan perbatasan.

BRICS Ingin Kurangi Dominasi Sistem Barat

BRICS sejak awal membawa agenda memperbesar suara negara berkembang dalam lembaga internasional.

Dalam Deklarasi New Delhi, para pemimpin BRICS kembali menyerukan sistem internasional yang lebih representatif dan adil serta reformasi lembaga multilateral. Mereka juga mendukung peningkatan perdagangan menggunakan mata uang lokal.

China melihat BRICS sebagai salah satu platform penting untuk memperkuat kerja sama negara-negara berkembang.

Xi bahkan menyebut BRICS sebagai platform penting bagi kerja sama negara-negara pasar berkembang dan negara berkembang.

Namun, China Tidak Bisa Menguasai BRICS Sendirian

Meski pengaruh China meningkat, Beijing tetap menghadapi tantangan.

BRICS terdiri dari negara-negara dengan kepentingan politik dan ekonomi yang berbeda. India memiliki hubungan strategis dengan Amerika Serikat, sementara China dan India masih memiliki persoalan perbatasan. Di sisi lain, negara seperti Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab juga memiliki kepentingan masing-masing.

Karena itu, keputusan BRICS harus melalui konsensus.

Reuters menilai KTT New Delhi memang memberi China kesempatan memperlihatkan pengaruhnya, tetapi dominasi China tetap dapat menimbulkan kekhawatiran di antara anggota lain.

Pengaruh China Berpotensi Makin Besar

Dengan agenda AI, perdagangan, sistem pembayaran, dan integrasi ekonomi, China di BRICS berpotensi memainkan peran yang semakin besar.

Namun, keberhasilan Beijing akan bergantung pada kemampuan China membangun konsensus dengan negara anggota lain. BRICS tidak hanya membutuhkan modal dan teknologi, tetapi juga kepercayaan antaranggota.

Jika kerja sama tersebut berhasil, BRICS dapat berkembang menjadi salah satu pusat kekuatan ekonomi dan diplomasi Global South.

Kesimpulan

China makin aktif di BRICS setelah Xi Jinping mendorong agenda baru di bidang AI, perdagangan, investasi, dan integrasi ekonomi. Beijing juga akan memegang posisi ketua BRICS pada 2027, sehingga peluang China untuk memengaruhi arah kerja sama kelompok tersebut semakin besar.

Meski demikian, BRICS tetap menghadapi tantangan karena setiap anggota memiliki kepentingan nasional yang berbeda. Dengan demikian, kekuatan China di BRICS akan sangat ditentukan oleh kemampuannya membangun konsensus, bukan sekadar besarnya pengaruh ekonomi Beijing.

vertu789